1. Beranda
  2. Opini

Kelas Menengah Indonesia Sedang “Turun Kasta”, dan Ini Masalah Serius

Oleh ,

Oleh: Lalu Riza Singrapati, S.Tr,. Stat.
(Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kepulauan Sula)

Belakangan ini, istilah "Makan Tabungan" sering banget lewat di timeline media sosial. Awalnya mungkin terdengar seperti candaan akhir bulan anak kos, tapi kalau kita bedah datanya, ini sebenarnya fenomena yang agak ngeri. Realitanya, struktur masyarakat kita sedang berubah, dan arahnya bukan ke atas.

Data dari Susenas BPS (Maret 2019 vs 2024) menampar kita dengan fakta keras: kelas menengah Indonesia jumlahnya anjlok. Dalam lima tahun terakhir, kita kehilangan sekitar 9,48 juta orang dari kelompok ini. Dari yang tadinya ada 57,33 juta orang di tahun 2019, sekarang tinggal 47,85 juta di tahun 2024.

Pertanyaannya, ke mana perginya hampir 10 juta orang itu?

Sayangnya, mereka "hilang" bukan karena naik kelas jadi orang kaya raya, tapi karena turun kasta. Mayoritas tergeser ke kelompok yang disebut Aspiring Middle Class atau Menuju Kelas Menengah. Kelompok ini sekarang membengkak parah, menampung 137,5 juta jiwa.

Posisi yang Serba "Nanggung"

Biar ada gambaran, kelas menengah itu menurut standar Bank Dunia & BPS adalah mereka yang pengeluarannya Rp 2 juta sampai Rp 9,9 juta per bulan. Ini kelompok yang biasanya sudah aman; bisa jalan-jalan, cicil rumah, atau minimal kebutuhan dasarnya terpenuhi dengan layak.

Nah, mereka yang turun kasta ini masuk ke Aspiring Middle Class (pengeluaran Rp 874 ribu - Rp 2 juta) atau bahkan Rentan Miskin (Rp 582 ribu - Rp 874 ribu).

Bahasa halusnya memang "calon kelas menengah", tapi realitanya posisi mereka ini sangat rapuh. Mereka ini kelompok yang "terlalu kaya untuk dapat Bansos, tapi terlalu miskin untuk hidup tenang".

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga