Menghapus Jarak Antara Meja Dinas dan Bangku Sekolah
Oleh: Mustakim Jamal
(Pemerhati Pendidikan)
Kedekatan antara Dinas Pendidikan dan sekolah bukan sekadar urusan administratif, tetapi menyangkut bagaimana kebijakan berpihak pada realitas kehidupan belajar. John Dewey (1916) menegaskan bahwa pendidikan bukan persiapan menuju kehidupan, tetapi kehidupan itu sendiri.
Karena itu, kita tidak bisa memahami dunia pendidikan hanya dari balik meja. Tetapi harus hidup di dalamnya, di ruang kelas, di tengah guru, dan bersama siswa.
Baca di: Koran Digital Malut Post Edisi Rabu, 12 November 2025
Ketika Dinas Pendidikan menjalin kedekatan dengan sekolah, sesungguhnya mereka sedang menerapkan prinsip dialog yang digagas Paulo Freire, seorang filsuf, tokoh pendidikan berkebangsaan Brazil. Freire menolak pendidikan yang menempatkan murid sebagai objek, dan sebaliknya menekankan pentingnya diaolog.
Pendidikan yang tumbuh melalui percakapan dan empati. Dalam konteks ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang dipimpin Abubakar Abdullah (AKA) berupaya menempatkan guru dan siswa sebagai subjek pembelajaran bersama, bukan sekadar penerima kebijakan.
Meskipun giat ini tidak setiap hari tapi dengan ketulusan untuk hadir di sekolah dapat memberikan kesan tersendiri dan rasa bahagia terhadap mereka (guru, siswa) yang ada di sekolah.
Dekat dengan sekolah berarti dekat dengan realitas. Data pendidikan yang paling jujur bukanlah angka dalam laporan, melainkan cerita guru yang mengajar di tengah keterbatasan, atau semangat siswa yang tetap datang ke sekolah meski jarak rumahnya puluhan kilometer, bahkan rela menyebrangi sungai dengan perahu.
Di situlah kebijakan menemukan akarnya. Seperti dikatakan John Dewey dalam Democracy and Education (1916), “pendidikan sejati tumbuh dari pengalaman hidup.” Maka pengalaman para guru dan siswa itulah yang menjadi sumber inspirasi utama dalam merancang program pendidikan di Maluku Utara.
Baca Halaman Selanjutnya..