1. Beranda
  2. Opini
  3. Uncategorized

Benalu Bagi Pelaku Usaha Kecil

Mengungkap Tabir Bahaya Ekonomi Modern

Oleh ,

PAGI itu pukul 07:13 ada sepasang suami istri yang tak lagi mudah, berdiri di emperan jalan dengan wajah penuh harapan, kapan dangangan mereka terjual...? penuh kasih merapikan dagangan berupah jenis-jenis kueh, berharap ada orang yang berlalu lalang di jalan membeli kueh  dagangan mereka. namun hingga pukul 01:30 tak satupun pengendara dan pejalan kaki yang melewati tempat jualan mereka di samping jalan tanpa sepatah katapun untuk mampir membeli.

Fenomena ini bagi saya bukan sekedar kejadian biasa tapi sebuah kekalahan orang-orang pinggiran karena dominan dari sebuah sistem ekonomi modern yang menguasai semua ruang pasar baik di dunia nyata bahkan dunia sosial.

Untuk itu, memaknai lebih dalam kita harus berangkat dari sejarah revolusi industri di Inggris sebagai titik awal dari perkembangan ekonomi modern. Yang memicu dominan dan menciptakan strata sosial antara kelas bawah (buruh) dan kelas atas (pemilik modal) sehingga menuai  konflik yang berkepanjangan dan melahirkan ideologi-ideologi besar yakni sosialisasi Marxisme dan kapitalisme, kedua ideologi ini saling bertolak belakang terhadap paradigma sosial masyarakat. sosialis Marxis menginginkan hidup bernegara tanpa ada kepemilikan pribadi (swastanisasi) sementara kapitalis berpendapat bahwa untuk sebuah kenyamanan hidup mereka harus mempekerjakan banyak orang (buruh) untuk meraup keuntungan dari eksploitasi dan ekspansi sumber daya agar bisa di pasarkan ke seluruh dunia, demi keuntungan pribadi tanpa berharap pada negara. 

Bermula dari sosok yang menjadi tokoh penemu, yakni Adam Smith seorang ekonom sekaligus filsuf asal  Skotlandia yang di kenal “sebagai bapak ekonomi modern” ia hidup di abad 18 dan sangat berpengaruh dalam membentuk dasar-dasar pemikiran ekonomi kapitalis dan pasar bebas. Sehingga membukakan peluang bagi kapitalis untuk mengembangkan ekonomi yang lebih mapan erah itu. 

Berlanjut pada abad 21 sekarang ini konsep ekonomi modern Masih tak tergantikan bahkan  masif  berkembang selaras dengan  perkembangan teknologi  dan komunikasi sehingga menciptakan tantangan baru bagi parah kapitalis dunia. Tatanan baru yang di mana kebutuhan-kebutuhan keluarga akan di produksi secara massal oleh kapital dengan berbagi farian dan kegunaan dalam memasarkan prodak secara global sampai ke pasar-pasar lokal, Nusantara.

Selepas dari tahun 1945 kemerdekaan hingga sekarang yang di kenal sebagai Indonesia menjadi suatu negara berkembang yang bercita-cita mengantar rakyat ke depan pintu gerbang kemerdekaan,  terkhusus pada kemerdekaan ekonomi dalam artian semua kebutuhan rakyat dari sandang, pangan, dan papan dapat di produksi sendiri oleh negara tanpa mengimpor dari negara lain sehingga memenuhi kebutuhan rakyat dari Sabang sampai Merauke.

Upaya kemerdekaan ini terlihat jelas, perubahannya telah di usahakan negara dalam mensejahterakan rakyat namun yang merdeka hanyalah orang bermodal tidak pada mereka orang-orang pinggiran seperti pedagang kali lima, pedagang emperan jalan, pedagang besi tua, pedagang kerupuk jalanan dan masih banyak lagi pedagang-pedagang lainnya yang tak dapat di sebut satu persatu. Semua itu mereka lakukan untuk menghidupi keluarga kecil mereka.

Tapi sayang secerah harapan itu di kikis habil oleh pemilik modal yang menyeroboti semua jenis usaha yang dipasarkan pada toko seperti Indomaret, Alfamart, dan  minimarket jujur saya merasa risih dengan hesteg yang tertera di setiap toko-toko itu. Menyatakan bahwa di sini semua tersedia memang benar tersedia, tapi atas ketersediaan itu saya berfikir terbalik bahwa parah pemodal ini tak memberi celah sedikitpun bagi pelaku usaha-usaha kecil dikarenakan pemodal ini menjual segala hal bahkan kerupuk pun di jual oleh mereka si pemilik modal yang seharusnya di jual oleh abang-abang Jawa menyisih jalan memikul sekarung krup dagangannya pun berlaku pada abang-abang pentolan semua telah di monopoli, tak cukup sampai di situ pemilik modal tak puas memonopoli di dunia nyata dengan keserakahan Mereka pun turut memonopoli di dunia Maya, sedih rasanya ibu" pedangan nasi kuning, yang berharap tetangga dapat membeli dagangan Kini tidak lagi karena suda di monopoli oleh pemilik modal dengan taktik marketing mereka sehingga melahirkan good food dengan dalil agar belanja lebih mudah, sama pikiran saya melihat ini terbalik bahwa dengan kemudahan itu mereka merampas hak dari ibu-ibu pedangan nasih kuning yang tetangga harus beli kini tak lagi karena lebih memilih belanja melalui aplikasi good food... ooh  sungguh ini dinamakan keadilan??

Saya percaya ketika teman-teman membaca tulisan ini teman-teman akan berfikir dua kali untuk berbelanja di toko-toko besar, dan ketika teman-teman telah berbelanja di pedagang-pedagang kecil maka pilihan kalian telah tepat. Kenapa saya mengatakan itu tepat, karna berbelanja bukan soal barang yang mau kita belanja tapi soal empati kita membantu orang-orang pengiran yang mengais rezeki dari kemurahan hati kalian, Meraka (pedagang-pedagang) kecil berdangan bukan untuk memupuk kekayaan tapi mengumpulkan rupiah demi masa depan anak dan kehidupan sehari-hari, bedah halnya dengan pemilik modal mereka itu bukan berdagang tapi merampok yang di samarkan dengan bahasa target Marketing.

Kita semua berharap di negeri hukum ini seharusnya rakyat kecil lah yang di prioritaskan, saya bergumam, di mana peran dari dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag), dinas ini seakan tak memiliki mata untuk melihat tak memiliki telinga untuk mendengar, padahal jelas dalam prinsip Disperindag yang utama adalah memprioritaskan pelaku usaha-usaha kecil dan menciptakan tata kelola yang baik.(*)

Baca Juga