Implementasi Pendidikan Inklusif, Antara Paradigma Humanistik dan Realitas Struktural

Bachtiar S. Malawat

Freire menawarkan konsep pedagogi dialogis yang menempatkan peserta didik sebagai subjek, bukan objek. Ia menentang pendidikan gaya “bank” yang menjejalkan pengetahuan kepada murid tanpa mengakui konteks sosial mereka.

Dalam pendidikan inklusif, pendekatan ini menjadi penting. Sebab, peserta didik dengan berbagai latar belakang memiliki pengalaman, tantangan, dan kekuatan masing-masing.

Ketika sistem pendidikan mengabaikan konteks ini, misalnya dengan tidak menyediakan alat bantu, tidak mengadaptasi metode pembelajaran, atau tidak memberi ruang partisipatif maka inklusi berubah menjadi ilusi.

Baca Juga: Pendidikan Mengimplikasikan Konsep Tentang Manusia dan Dunia

Realitas struktural ini diperparah oleh tata kelola pendidikan yang elitis dan sentralistik. Kebijakan inklusif yang digulirkan oleh pemerintah pusat tidak diikuti oleh penguatan kapasitas pemerintah daerah maupun sekolah.

Banyak kebijakan hanya berakhir sebagai formalitas administratif tanpa dukungan anggaran, pelatihan, dan supervisi yang memadai.

Di lapangan, guru sering kebingungan menerjemahkan “pendidikan inklusif” karena tidak ada acuan teknis yang jelas dan tidak ada dukungan konkret dari institusi.

Hal ini menyebabkan banyak sekolah melakukan praktik eksklusi terselubung, tidak secara eksplisit menolak siswa berkebutuhan khusus, tapi tidak menyediakan sarana yang memungkinkan mereka belajar secara optimal. Dalam situasi seperti ini, pendidikan inklusif gagal melampaui sekadar slogan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...