Membangun Nalar Kritis di Era Digital: Tinjauan Madilog

Tan Malaka tidak sekedar mengadopsi pemikiran Barat seperti Marx, Engels, atau Hegel. Ia melakukan reinterpretasi dan adaptasi terhadap konteks indonesia.
Ia menyadari bahwa membebaskan bangsa dari penjajahan tidak cukup hanya dengan senjata, tetapi juga dengan pembebasan akal.Dalam pengertian ini, Madilog adalah manifesto kemerdekaan pikiran.
Diera digital sekarang ini kita diperhadapkan pada banjir informasi, hoaks dan narasi populis yang sering menyesatkan, maka melalui Madilog menjadi sangat relevan.
Masyarakat butuh kemampuan berpikir kritis dan analitis agar tidak mudah percaya begitu saja pada informasi yang beredar. Kita butuh nalar yag jernih untuk memilah mana fakta dan manipulasi.
Dalam dunia pendidikan, semangat Madilog mengingatkan kita bahwa belajar bukan hanya soal menghafal, melainkan memahami dan mempertanyakan secara kritis. Tan Malaka ditulis, bukan di ruang yang mewah, bukan di sebuah Warkop seperti aktivis dan akademik sekarang.
Tapi Madilog ditulis di sebuah gubuk reyo reyo,dengan suasana penuh penderitaan, kemiskinan dan kesepian yang begitu ekstrim dibawa suasana Imperialisme Jepang pada saat itu. Madilog ditulis di Rawajati, daerah kalibata, cilitan jakarta, dalam waktu 259 Hari/8 bulan, waktu yang begitu panjang.
Tan Malaka adalah salah satu tokoh revolusioner dari kalangan IsIam yang memiliki daya pemikiran yang melampaui zaman.
Baca Halaman Selanjutnya..
Komentar