1. Beranda
  2. Opini
  3. Pendidikan
  4. Politik
  5. Ternate

Sumpah Pemuda: Persatuan yang Dikenang, Perjuangan yang Dilupakan

Oleh ,

APA gunanya sebuah bangsa merawat ingatan tentang persatuan jika generasinya justru membiarkan ego menjadi tembok pemisah? Apa arti Sumpah Pemuda jika sejarah hanya menjadi perayaan tahunan, sementara nilai perjuangannya perlahan kehilangan tempat dalam kehidupan nyata? Sebab, sejarah yang hanya dikenang tanpa diwujudkan ibarat pelita yang dipuji cahayanya, tetapi dibiarkan padam ketika perjalanan membutuhkan penerangan.

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda menyatukan perbedaan dalam satu cita-cita kebangsaan: Indonesia. Mereka memahami bahwa persatuan bukanlah hasil dari kesamaan, melainkan keberanian untuk melampaui perbedaan demi tujuan yang lebih besar. Mereka tidak sekadar mewariskan ikrar, tetapi meletakkan fondasi bahwa masa depan bangsa hanya dapat dibangun ketika kepentingan bersama lebih tinggi daripada kepentingan golongan.

Namun, apakah semangat itu masih hidup dalam diri pemuda hari ini, atau justru terkubur di balik kemegahan seremoni dan lantangnya pidato nasionalisme?

Kita hidup pada zaman ketika informasi mengalir tanpa batas, tetapi kedalaman berpikir tidak selalu tumbuh seiring luasnya pengetahuan. Gelar akademik semakin dikejar, tetapi integritas tetap harus diperjuangkan; jabatan organisasi diperebutkan, tetapi tanggung jawab sering terlupakan. Kita seolah sibuk membangun tangga menuju kekuasaan, tanpa bertanya apakah tangga tersebut membawa masyarakat menuju kemajuan atau hanya mengangkat kepentingan pribadi.

Di kampus dan organisasi kepemudaan, persatuan tidak seharusnya dimaknai sebagai keseragaman pendapat. Persatuan yang menolak kritik hanyalah ketenangan semu, seperti air yang tampak jernih di permukaan tetapi menyimpan kekeruhan di dasarnya. Perbedaan gagasan justru menjadi kekuatan ketika akal sehat memimpin perdebatan dan kepentingan publik menjadi tujuan perjuangan.

Pemuda tidak cukup menjadi pewaris sejarah; mereka harus menjadi penafsir zaman. Jika generasi 1928 berani melampaui sekat kedaerahan, generasi sekarang harus berani melampaui apatisme, fanatisme kelompok, ketidakadilan, dan budaya mengejar jabatan tanpa pengabdian. Sebab, tantangan boleh berganti wajah, tetapi tanggung jawab terhadap masa depan bangsa tidak pernah kehilangan maknanya.

Di Maluku Utara, semangat Sumpah Pemuda harus menjelma menjadi keberanian mengawal pembangunan, memperjuangkan pendidikan berkualitas, memperluas kesempatan kerja, dan memastikan kekayaan alam memberi manfaat bagi masyarakat. Daerah yang kaya sumber daya tetapi miskin kesempatan bagi generasi mudanya harus menjadi bahan renungan bersama, bukan sekadar latar belakang pidato peringatan.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukan monumen untuk mengagumi masa lalu, melainkan cermin untuk menguji keberanian masa kini. Jika persatuan hanya dikenang, jabatan lebih dicintai daripada pengabdian, dan kepentingan kelompok lebih diagungkan daripada kepentingan rakyat, maka yang kita warisi hanyalah bunyi sumpahnya, bukan jiwa perjuangannya.

Sebab, bangsa tidak dibesarkan oleh generasi yang paling lantang mengenang sejarah, melainkan oleh generasi yang berani menjadikan sejarah sebagai alasan untuk mengubah masa depan.(*)

Baca Juga