1. Beranda
  2. Opini

Membedah Fenomena “Matinya Kepakaran” di Indonesia

Panggung Viral dan Senjakala Ahli

Oleh ,

Oleh: Fadlum Marsaoly
(Pemerhati Sosial Politik Maluku Utara)

Dalam diskursus ilmu politik dan sosiologi pengetahuan modern, integritas tatanan pemerintahan tidak hanya diukur dari legalitas formal-prosedural, melainkan dari sejauh mana negara mengadopsi nalar rasional-ilmiah dalam pengambilan keputusan publik (evidence-based policy).

Namun, dalam karya monumental The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters (2017), pakar hubungan internasional Tom Nichols membunyikan alarm bahaya atas keruntuhan batas antara kesadaran ilmiah berbasis bukti dan opini awam yang emosional.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 15 Oktober 2026

Nichols menegaskan bahwa penolakan terhadap kepakaran saat ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat akademis, melainkan sebuah gerakan kultural anti-intelektualisme yang terstruktur.

Di Indonesia, fenomena "matinya kepakaran" ini menemukan wujudnya ketika sikap antikritik terhadap sains dan analisis berbasis bukti dipraktikkan secara terbuka oleh pemegang kekuasaan tertinggi di lingkaran eksekutif.

Ketika Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan pidato publik melontarkan sindiran tajam kepada para pakar—seperti narasi bahwa "saking pintarnya pakar jadi goblok" hingga menuding analisis akademis sebagai bentuk "fitnah"—masyarakat sedang disuguhkan sebuah bentuk patologi komunikasi kekuasaan.

Kendati klarifikasi susulan disampaikan di hadapan akademisi, gestur awal tersebut tetap menandai pengikisan etika kepemimpinan sekaligus pengabaian serius terhadap legitimasi ilmu pengetahuan.

Jika dibedah secara ketat melalui pisau analisis Tom Nichols, dinamika politik kekuasaan di Indonesia saat ini mengarah pada apa yang dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect dalam politik.

Fenomena psikologis ini menggambarkan kondisi ketika individu atau pemegang otoritas yang hanya memiliki pemahaman dangkal mengenai isu kompleks, justru merasa superior melampaui para pakar di bidangnya.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga