1. Beranda
  2. Opini

Ketika Makanan Menjadi Kekhawatiran: MBG dan Psikologi Pendidikan Siswa Melalui Teori ABC 

Oleh ,

Oleh: Rita Fajhriani Nasrul

(Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Negeri Padang)

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program yang hadir dilingkungan pendidikan dengan tujuan mendukung kebutuhan gizi siswa. Namun perhatian masyarakat kembali tertuju pada program tersebut setelah munculnya dugaan gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa MTsN 1 Kota Pariaman setalah mengkonsumsi MBG.

Peristiwa tersebut terjadi pada 14 September 2026. Sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan seperti mual, muntah, pusing dan sakit perut hingga mendapatkan penaganan medis. Peristiwa tersebut menjadi perhatian dikalangan masyarakat dan diberitakan secara luas. Namun penyebab pasti gangguan kesehatan tersbut masih memerlukan periksaan lebh lanjut. Karena itu istilah yang tepat digunakan adalah dugaan keracunan atau dugaan gangguan kesehatan, bukan menyimpulkan bahwa MBG telah terbukti menjadi penyebabnya.

Dibalik persoalan kesehatan tersebut, terdapat sisi lain yang menarik untuk diperhatikan, yaitu kondisi pskologis siswa dan proses belajar mereka.

Ketika rasa aman siswa terganggu 

Sekolah seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk belajar, berinteraksi, dan berkembang dalam lingkungan yang aman. Ketika terjadi sebuah peristiwa yang membuat sejumlah siswa sakit, pengalaman tersebut dapat menimbulkan berbagai respons emosional.

Sebagian siswa mungkin merasa khawatir kejadian yang sama akan terulang. Ada pula yang mungkin menjadi lebih berhati-hati ketika menerima makanan di sekolah. Bagi siswa yang menyaksikan langsung teman-temannya sakit atau mendapatkan perawatan medis, peristiwa tersebut juga dapat menjadi pengalaman yang cukup mengkhawatirkan.

Dalam psikologi pendidikan, kondisi emosional siswa penting diperhatikan karena proses belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan akademik. Perhatian, konsentrasi, motivasi, dan kesiapan belajar juga berkaitan dengan kondisi psikologis siswa.

Memahami fenomena dengan teori ABC

Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan teori ABC dari Albert Ellis, yang merupakan bagian dari pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). ABC terdiri atas:

A – Activating Event, yaitu peristiwa yang terjadi dalam kasus ini. Peristiwa ketika sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan seperti mual, pusing, muntah, hingga sesak napas sesaat setelah mengonsumsi MBG dan sebagian siswa melihat atau mendengar pengalaman tersebut. Menicu kepanikan massal, kedatangan ambulance serta evakuasi darurat ke rumah sakit.

B – Belief/Behavior, yaitu keyakinan atau cara seseorang menafsirkan peristiwa. Setelah melihat kejadian tersebut, setiap siswa dapat memberikan penafsiran yang berbeda. Misalnya, seorang siswa mungkin berpikir “Makanan ini mungkin tidak aman atau berbahaya dan saya juga bisa sakit” atau “saya takut akan mengalami hal yang sama”.

C – Consequence, yaitu konsekuensi yang muncul, baik secara emosional maupun perilaku.

Konsekuensi yang muncul seperti rasa cemas berlebihan (anxiety) , hiteria massal saat evakuasi, dan trauma psikologis mendalam bagi siswa yang menyaksikan teman-temannya bertumbangan. Orangtua mengalami ketakutan ekstrim melihat anaknya lemas. Siswa merasa takut, enggan mengonsumsi makanan di sekolah, sulit berkonsentrasi, atau kurang bersemangat mengikuti pembelajaran dan motivasi belajar kurang, dapat menjadi akibat penurunan prestasi belajar, kepercayaan diri yang menurun, kurang rasa aman dilingkungan sekolah.

Dari teori ABC dapat dipahami bahwa peristiwa tidak selalu secara langsung menghasilkan respons tertentu. Cara individu memaknai dan menafsirkan peristiwa tersebut juga memiliki peran.

Baca halaman selanjutnya...

Baca Juga