Kuat Karena Terpaksa? Membaca Beban Ganda Perempuan Desa
Oleh: Asriyana Hi. Hasan
(Perempuan Desa Wayatim)
Perempuan dalam Rahim kapitalis merujuk pada kondisi perempuan yang terjebak dalam sistem kapitalisme, karena perempuan diekspolitasi dan peran perempuan dimanipulasi demi keuntungan ekonomi. Sistem ini yang sering kali terjalin dengan patriarki, menggunakan perempuan sebagai sumber daya untuk mempertahankan dan memperluas akumulasi modal.
Eksploitasi Kerja dan Upah Renda
Sistem kapitalisme sering kali mengeksploitasi perempuan melalui upah yang renda, jam kerja yang berlebihan serta beban ganda yang masih terus ditanggung. Meski demikian, banyak perempuan yang tidak menyadari akan hal tersebut.
Sehingga menjadikan itu sebagai satu kebiasaan yang suda menjadi kewajiban bagi setiap perempuan. Dalam benak kapitalisme, tubuh dan citra perempuan sering kali dijadikan objek dan komudifikasi untuk periklanan dan konsumsi.
Perempuan Desa dan Beban Ganda: Ketika Kuat Bukan Berarti Harus Menanggung Segalanya.
Perempuan desa seringkali di sebut sebagai sosok yang kuat. Sebab perempuan bangun sejak pagi, menyiapkan kebutuhan keluarga, mengurus anak bagi berumah tangga, memasak, membersihkan rumah, kemudian melanjutkan pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Dibalik kesederhanan kehidupan desa, ada perempun yang bekerja tanpa mengenal batas antara waktu kerja dan waktu beristirahat.
Persoalan perempuan desa dengan beban ganda bukan hanya tentang pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi juga tentang bagaimana pekerjaan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan suda menjadi kewajiban perempuan.
Ketika seorang perempuan sudah bekerja di kebun, berdagang di pasar, atau menjalankan usaha kecil, masyarakat sering kali mengharapkan rumah dalam keadaan terurus, dan anak-anak tetap diperhatikan seolah-olah bekerja mencari penghasilan tidak membuat tanggung jawab domestiknya berkurang.
Di Desa Wayatim, Bacan Timur Tengah Kabupaten Halmahera Selatan, merupakan desa dengan sumber pencarian adalah pertania. Perempuan di Desa Wayatim sering menghabiskan waktu sehari di kebun untuk menanam hingga memanen hasil pertanian.
Ada juga yang mencari bia untuk di jual, membuat sagu, untuk menambah penghasilan apabila belum panen. Masyarakat Desa Wayatim sangat melekat dengan budaya dan sistem patriarki, yang mengharuskan perempuan untuk mengerjakan pekerjaan ganda.
Contohnya adalah, perempuan-perempuan di desa setiap hari harus bangun lebih awal dari yang lain guna menyiapkan sarapan dan kebutuhan anak sebelum pergi ke kebun.
Baca Halaman Selanjutnya..