Nenek Membaca Angin, Negara Membaca Nikel
Oleh: Roberto Duma Buladja
Pendiri Poros Muda untuk Aksi Bersama (POMANARA)
Dahulu, di sebuah kampung di Galela, seorang nenek mengumpulkan anak dan cucunya setiap malam. Di bawah langit penuh bintang, ia bercerita banyak hal tentang tanda-tanda alam dan manfaatnya. Kelapa, pala, dan pisang ditanam saat bulan purnama agar buahnya lebat.
Batata dan kasbi (ubi jalar dan ubi kayu) ditanam saat air laut surut supaya buahnya sebanyak batu karang. Padi mulai ditanam saat bintang Pariama muncul pada subuh hari.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 23 September 2026
Elang yang berputar di udara menandai musim ikan. Angin selatan yang bertiup kencang setiap hari adalah pertanda akan muncul kemarau panjang, dan ketika angin berbalik dari barat, musim hujan segera tiba.
Penggalan kisah tersebut penulis kumpulkan dari para tetua adat, dan telah dimuat dalam buku “Seorang Nenek yang Punya Banyak Pengetahuan (Ongo E?e Moi Ami Nonako Ka Idala: Kumpulan Cerita Rakyat dan Tradisi Lisan Masyarakat Galela, hlm. 8-13 2025)”.
Penutup dari cerita itu sederhana, tetapi dalam maknanya. Ketika seorang cucu bertanya mengapa semua itu harus diketahui, sang nenek menjawab bahwa kita hidup bersama alam, maka harus memahami “bahasanya”, agar kita bisa hidup “bersahabat dengannya”.
Kini, di tengah kemarau panjang yang membakar Halmahera maupun daerah lainnya, kisah itu terasa penting untuk dibaca kembali. Sang nenek itu layaknya kembali mengingatkan bahwa tanda-tanda alam itu mulai memudar. Begitu juga dengan jarak persahabatan manusia dengan alam.
Tahun ini El Niño datang dengan kekuatan besar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG, 2026) memprediksi fenomena ini bertahan hingga awal 2027 dengan intensitas yang melampaui kategori kuat.
Bahkan sejak Maret, BMKG sendiri sudah memperingatkan tentang durasi kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia yang akan lebih panjang dari biasanya.
Baca Halaman Selanjutnya..