1. Beranda
  2. Opini

Memaknai Budaya sebagai Jalan Juang dan Jalan Pulang

Oleh ,

Oleh: M. Tamhir Tamrin
(Ketua BEM FIB Universitas Khairun)

Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai “keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dengan proses belajar.” Definisi ini memberi kita pemahaman bahwa kebudayaan bukan hanya apa yang dipertontonkan dalam panggung kesenian, bukan sekadar pakaian adat yang dikenakan pada seremoni, dan bukan pula sekumpulan tradisi yang hanya kita ingat ketika sebuah perayaan tiba.

Kebudayaan hidup dalam cara kita berpikir, bertindak, berhubungan dengan sesama, membaca lingkungan, hingga menentukan bagaimana sebuah masyarakat memandang dirinya sendiri.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 17 September 2026

Karena itu, ketika kita berbicara tentang kebudayaan Maluku Utara, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang identitas yang jauh lebih luas daripada sekadar simbol-simbol tradisional.

Kita sedang berbicara tentang ingatan yang diwariskan, tentang bahasa dan tutur, tentang sastra lisan, tentang kesenian, tentang pengetahuan masyarakat terhadap laut dan daratan, tentang hubungan manusia dengan alam, tentang nilai kebersamaan, tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Maluku Utara, dan tentang pengalaman panjang masyarakat yang membentuk watak sosialnya hingga hari ini.

Maluku Utara tidak pernah lahir dari ruang yang kosong. Wilayah ini tumbuh dari sejarah yang panjang dan kompleks. Ternate, Tidore, Bacan,Jailolo, Makian, Tobelo, Galela, Sula dan Taliabu bukan hanya nama-nama yang tercatat dalam buku sejarah.

Di dalamnya terdapat pengalaman politik, perdagangan, pengetahuan, konflik, perjumpaan antarbudaya, serta kemampuan masyarakat untuk bertahan dan beradaptasi menghadapi perubahan zaman.

Rempah-rempah pernah membawa Maluku Utara menjadi bagian penting dari arus sejarah dunia. Tetapi pertanyaan kita hari ini adalah: setelah begitu banyak perubahan terjadi, apa yang masih kita bawa dari sejarah itu?

Pertanyaan tersebut penting karena kebudayaan sering kali kita tempatkan hanya sebagai sesuatu yang harus dilestarikan, seolah-olah tugas kita terhadap budaya cukup dengan menjaga agar sesuatu tidak hilang.

Baca Halaman Selanjuntya..

Baca Juga