1. Beranda
  2. Opini

Perempuan, Tubuh dan Tabu

Oleh ,

Oleh: Sirli Saputri Habib Abdurachman

Tak perlu menguraikan perempuan dalam kacamata etimologi, sebab kata saja tak mampu menjamahnya sebagai bentuk penjelasan, terlalu dini untuk menilainya, perempuan sudah cukup untuk menegaskan tentang peran, fungsi dan identitas diri.

Untuk itu, di tengah problematika sosial yang masih berkecamuk, kapitalisme semakin marak, kekerasan tak terbendung, stereotipe masih menjalar, perempuan kerap kali bercengkrama dalam bilik-bilik sunyi.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 9 September 2026

Mencoba mentiadakan watak seksis yang menggerogoti segelintir kepala orang – orang tak beradab. Tapi, upaya tak lekang habis mengudara, ia masih bertumbuh. Tunduk pada sesuatu yang menutup ruang produktifitasnya adalah keteledoran paling ambigu.

Kadang, tubuh perempuan selalu jadi bahan subjektifikasi. Terlahir sebagai perempuan memang kodrat, tumbuh dan berkembang menjadi perempuan seperti apa adalah perlawanan.

Di era arus globalisasi yang membumi, pekerja seks sering dilabeli sebagai perempuan tanpa marwa dan nama, padahal hidup di tengah krisis ekonomi yang lumayan menghardik. Perempuan mesti berjalan diatas tirani.

Para predator sibuk mencari tubuh siapa yang patut dilacuri, dijadikan budak seks bahkan mereka rela menggenggam erat sperma untuk berdaulat diatas ranjang milik pribadi, berdua dan beramai ramai. Tak lekang oleh zaman, perempuan selalu menjadi imbas kebiadaban.

Perempuan acap kali dijadikan objek, bahkan era teknologi digital memerlukan perempuan, Vidio Call Seks (VCS) di channel aplikasi yang tertera pada gawai dijadikan bahan bermain untuk pemuas nafsu sesaat, teringat kata Naomi Wolf “Vagina bukan hanya sekedar lubang, ia adalah lubang berbentuk Dewi” tempat semua bermuara, orgasme, keniscayaan bahkan peradaban.

Tak luput santun, semua yang mengatasnamakan tubuh adalah hak. Ia bebas berekspresi, banyak dari kita “perempuan” yang luput akan hal itu, berani katakan tidak pada sesuatu yang tak semestinya atau belum saatnya adalah hak keberanian.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga