Ketika Kekeringan Dijawab dengan Ritual, Bukan Kebijakan
Bismillah: Minta Hujan atau Minta Ampun?
Oleh: Anwar Husen
(Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara)
Ada fenomena ritual biasa yang berulang. Beberapa daerah di Indonesia telah menggelar shalat Istisqa (shalat minta hujan) untuk menghadapi musim kemarau panjang dan kekeringan, termasuk di Maluku Utara.
Tentu ada alasan dalilnya. Dan pastinya, efek kemarau itu berbeda antar wilayah. Ada yang masih dipandang biasa, ada juga yang sudah di level "siaga satu".
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 8 September 2026
Dan mungkin saja waktu yang kurang lebih empat bulan musim kemarau ini, telah dipandang sebagai rentang yang cukup untuk "berlatih kesabaran" dari ujian Tuhan. Itupun kalau kemarau ini dipandang telah di level ujian.
Tetapi justru di sinilah, beberapa paradoks itu muncul. Termasuk memaknai kemarau panjang sebagai siklus sunatullah yang bisa dijelaskan secara sains, dan manifestasi ujian, atau bahkan adzab Tuhan.
Ada keyakinan tentang klausul general yang diterima pemeluk agama: Keyakinan agama itu harus dibangun di atas fondasi ketaatan.
Taat atas perintah dan laranganNya dalam situasi apapun. Dan ikhtiar dalam kesabaran dan rasa syukur atas nikmat adalah menifestasi ketaatan. Rasa syukur biasa berwujud pengelolaan yang proporsional, bahkan investasi sumber daya yang bernilai nikmat.
Secara kodrat, manusia memang memiliki sifat dasar mudah berkeluh kesah ketika menghadapi situasi yang sulit. Juga kurang bersyukur saat mendapatkan kesenangan. Padahal juga, informasi potensi kekeringan adalah hal yang mudah diakses.
Dalam Sustainable Development Goals [SDGs] oleh PBB untuk tujuan pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup masyarat, indikator itu sudah jelas, tegas dan mudah diakses. Ancaman ketahanan pangan global akibat anomali cuaca adalah ancaman paling serius.
Baca Halaman Selanjutnya..