1. Beranda
  2. Maluku Utara

PKM FIB Unkhair Kenalkan Pahlawan dan Tokoh Malut ke Generasi Muda

Oleh ,

Ternate, malutpost.com - Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair) menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa workshop kepenulisan di SMAN 4 Halmahera Selatan (Halsel).

Kegiatan bertema “Mengenalkan Pahlawan dan Tokoh Maluku Utara: Merawat Ingatan Sejarah dan Identitas Kebudayaan” itu berlangsung di Aula SMAN 4, Desa Waimili, Kecamatan Gane Timur, Halsel, pada Mei 2025 lalu.

Kegiatan edukasi untuk mengenalkan pahlawan dan tokoh Maluku Utara tersebut diinisiasi dua dosen Ilmu Sejarah FIB Unkhair. PKM dipimpin Dr. Umi Barjiyah dengan anggota Sri Haryati Putri.

Ketua Tim, .Dr. Umi Barjiyah, mengatakan PKM FIB Unkhair yang berfokus pada edukasi pengenalan pahlawan dan pejuang Malut serta workshop penulisan biografi bagi siswa SMAN 4 Halsel merupakan bagian dari langkah mendorong siswa mengenal pahlawan dan pejuang daerah.

“Para siswa sebagian besar tidak mengetahui pahlawan dan tokoh-tokoh di Malut. Mereka mengenal nama Khairun dan Baabullah, tetapi tidak dapat menyebut nama lainnya. Karena itu, kegiatan PKM ini menjadi langkah memberikan edukasi kepada siswa mengenai tokoh lokal daerah,” ujarnya kepada malutpost.com Minggu (6/9/2026).

Doktor Ilmu Sejarah ini menjelaskan, Malut merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai wilayah penghasil rempah-rempah, tetapi juga sebagai ruang pertemuan berbagai kekuatan politik, ekonomi, dan budaya sejak berabad-abad lalu.

Kesultanan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo menjadi bagian penting dalam sejarah Maluku dan memiliki hubungan luas dengan dunia perdagangan internasional.

Kata dia, dalam perjalanan sejarah Malut, muncul berbagai tokoh yang memiliki peran penting dalam mempertahankan wilayah, mengembangkan pendidikan, membangun kebudayaan, serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, kekayaan sejarah tersebut belum selalu dikenal dengan baik oleh generasi muda.

“Banyak anak muda lebih mengenal tokoh-tokoh nasional yang sering muncul dalam buku pelajaran, media massa, film, dan media sosial. Sementara tokoh-tokoh yang berasal dari daerahnya sendiri justru kurang dikenal. Kondisi ini menjadi tantangan penting dalam pelestarian sejarah lokal,” tuturnya.

Pose bersama Tim PKM FIB Unkhair dan siswa SMAN 4 Halmahera Selatan

Ia menilai, pengenalan pahlawan dan tokoh Malut, khususnya kepada generasi muda, tidak semata-mata bertujuan untuk menghafalkan nama, tahun kelahiran, atau peristiwa sejarah. Lebih dari itu, pengenalan tokoh merupakan upaya membangun hubungan antara generasi sekarang dengan masa lalu.

“Sejarah tokoh dapat menjadi media untuk memahami nilai keberanian, kepemimpinan, solidaritas, kecintaan terhadap tanah air, perjuangan terhadap ketidakadilan, serta kemampuan masyarakat Maluku Utara dalam menghadapi perubahan zaman. Selain itu, juga dapat memperkuat identitas budaya daerah dalam konteks Indonesia yang semakin global,” jelasnya.

Bagi dia, tokoh sejarah memiliki posisi penting dalam pembelajaran sejarah karena melalui kehidupan seseorang, generasi muda dapat memahami suatu periode sejarah secara lebih konkret. Peristiwa yang terkadang terasa jauh dan abstrak dapat dipahami melalui pengalaman manusia yang hidup di dalamnya.

“Dalam konteks Malut, sejarah dapat diperkenalkan melalui berbagai bentuk kegiatan mengenai tokoh yang berasal dari latar belakang berbeda dan berperan dalam perubahan sosial,” tandasnya.

Dosen yang akrab disapa Umi ini menyebut, salah satu persoalan dalam pembelajaran sejarah di Indonesia, termasuk Maluku Utara, adalah kecenderungan menjadikan tokoh sebagai objek hafalan. Generasi muda mungkin mengetahui nama seorang pahlawan, tetapi belum tentu memahami mengapa tokoh tersebut dianggap penting.

“Pendekatan semacam ini perlu diubah. Pengenalan tokoh seharusnya diarahkan pada pertanyaan yang lebih kritis. Jadi, upaya pelaksanaan PKM ini merupakan bagian dari mendorong siswa memahami nilai penting jejak perjuangan tokoh pahlawan dan pejuang daerah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Umi menyampaikan generasi muda pada dasarnya memiliki ketertarikan terhadap cerita. Sejarah tokoh perlu disampaikan dalam bentuk narasi yang menarik dan mudah dipahami tanpa kehilangan ketepatan akademiknya.

Sebab, menurutnyakisah perjuangan tokoh Maluku Utara dapat dikembangkan menjadi cerita pendek, komik sejarah, film dokumenter, podcast, animasi, konten media sosial, maupun bahan pembelajaran digital.

“Olehnya, perlu ada langkah mendorong digitalisasi sejarah untuk generasi muda. Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan digital. Karena itu, strategi pengenalan sejarah juga harus mengikuti perkembangan teknologi. Sejarah tokoh Maluku Utara dapat diperkenalkan melalui platform yang kekinian,” tandasnya.

Dosen senior Ilmu Sejarah itu berharap, PKM yang dilaksanakan untuk mengenalkan pahlawan dan tokoh Maluku Utara kepada generasi muda bukan sekadar kegiatan memperkenalkan nama-nama yang pernah hidup pada masa lalu.

Namun lebih dari itu, pengenalan pahlawan dan tokoh lokal merupakan bagian dari langkah merawat ingatan sejarah, membangun kesadaran identitas, dan memastikan warisan perjuangan masyarakat Maluku Utara tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Sejarah akan kehilangan maknanya apabila hanya tersimpan dalam arsip, museum, buku, dan dokumen. Sejarah menjadi hidup ketika generasi baru mengenalnya, mendiskusikannya, mempertanyakannya, dan menemukan relevansinya dengan kehidupan mereka sendiri,” katanya.

Sembari berharap, ke depannya tokoh-tokoh Maluku Utara perlu diperkenalkan dengan cara yang dekat dengan dunia generasi muda. Teknologi digital, media sosial, film, museum, sekolah, komunitas, dan tradisi lisan dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. (mg-01)

Baca Juga