1. Beranda
  2. Opini

Budaya Fanten dalam Perayaan Maulid Nabi; antara Tradisi, Religius, dan Kebersamaan

Oleh ,

Oleh: Sahwi Agil

Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu momentum penting dalam kehidupan umat Islam. Perayaan ini tidak hanya menjadi ruang refleksi atas keteladanan Nabi, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan rasa syukur dan cinta kasih di antara sesama.

Di berbagai daerah di Indonesia, Maulid Nabi dirayakan dengan cara yang beragam, menampilkan kekayaan tradisi dan kearifan lokal. Salah satu tradisi unik yang tumbuh dan mengakar dalam wilayah Halmahera Tengah dan Halmahera Timur, khususnya Kecamatan Patani secara keseluruhan adalah budaya Fanten.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 2 September 2026

Fanten pada dasarnya, adalah bentuk hantaran makanan yang disiapkan oleh setiap keluarga atau kelompok masyarakat untuk dibawah ke masjid atau tempat berlangsungnya acara Maulid. Hantaran tersebut biasanya terdiri dari kue tradisional, buah-buahan, hingga minuman.

Namun, bukan hanya sekedar makanan, melainkan mengandung makna sosial, religius, dan budaya. Ia bukan hanya simbol jamuan, melainkan cerminan syukur dan kebersamaan dalam bingkai perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Prosesi fanten dimulai sejak hari-hari menjelang Maulid. Setiap keluarga sibuk mempersiapkan hidangan terbaik yang mereka mampu, bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk dibawah bersama dalam perayaan.

Pada hari pelaksanaan suasana kampung atau desa tampak bahagia dalam penjemputan ini serta warga berbondong-bondong menuju masjid, masing-masing menjemput fanten dengan penuh suka cita.

Iringan ini disertai dengan suasana kekeluargaan yang hangat, seakan-akan seluruh masyarakat disatukan oleh satu tujuan merayakan dan memuliakan kelahiran Rasulullah.

Sesampainya di masjid, peserta fanten yang terkumpul ditata dengan rapi. Acara kemudian diawali dengan pembacaan shalawat, barzanji, dzikir, dan ceramah tentang keteladanan Nabi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga