1. Beranda
  2. Opini

Ternate Tanah Kaya Sejarah

Oleh ,

Oleh: Ibnu Ammar
(Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun)

Jauh sebelum panji Merah Putih berkibar megah di bumi Nusantara, sebuah denyut peradaban yang berapi-api telah lebih dulu bergemuruh di ujung timur Indonesia.

Di bawah naungan megah serta ancaman muntahan lava Gunung Gamalama yang berdiri gagah di Pulau Ternate, hiduplah kelompok-kelompok manusia mandiri yang dikenal sebagai para penjaga adat yang disebut soa.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 27 Agustus 2026

Mereka bukan sekadar orang-orang biasa, melainkan komunitas perkasa yang terpencar di empat titik bentangan alam yang menantang nyali, masing-masing membawa karakter, keringat, dan gelora hidupnya sendiri!

Empat kampung awal itu adalah Tabona dan Tubo, singgasana para pejuang tangguh yang mendiami sejuknya lereng-lereng gunung dan tanah vulkanik yang subur.

Serta di sisi seberangnya, membentang kampung Tobuleu dan Tabanga, garis pertahanan terdepan para nelayan ulung yang menantang ganasnya ombak lautan di pesisir pantai! Di sinilah rantai kehidupan ditempa dalam ujian alam yang keras.

Warga lereng gunung mengolah tanah dengan cangkul dan tangan kosong, merawat rempah-rempah purba demi bertahan hidup. Namun, mereka tidak bisa berdiri sendiri! Mereka mati-matian membutuhkan pasokan ikan segar dan garam laut untuk menyambung nyawa, yang hanya bisa diberikan oleh saudara-saudara mereka di pesisir.

Sebaliknya, para pelaut di pesisir pantai tidak akan mampu bertahan sehari pun tanpa hasil bumi, sayuran, dan umbi-umbian yang diturunkan dengan susah payah oleh warga dari puncak gunung. Hubungan mereka adalah sumbu api yang saling menghidupkan!

Tetapi, di balik jalinan hidup yang erat itu, api emosi sering kali tersulut liar di antara mereka. Ego kelompok kerap membakar akal sehat!

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga