1. Beranda
  2. Opini

Hilangnya Sebuah Peradaban

Oleh ,

Oleh: Safruddin Jen
(Penulis, Rimbawan Senior)

Tidak seperti biasanya, malam itu bulan mulai menampakkan cahayanya, laut agak tenang, suara ombak tidak kedengaran, dan angin bertiup perlahan lahan.

Tidak jauh dari tempat saya duduk, beberapa anak muda duduk sambil cerita, suaranya sayup sayup, tetapi saya dapat menagkap isi pembicaraan mereka. Mereka bicarakan masa depannya.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 27 Agustus 2026

Pagi harinya saya bertemu dengan sorang anak kecil yang menjual kue hasil buatan ibunya. Saya menyapa anak itu dan bertanya siapa nama orang tuanya.

Anak gadis kecil itu berusaha untuk membantu kehidupan keluarganya sebelum berangkat sekolah. Sejak kecil, anak itu telah ternanam jiwa berani usaha, mandiri, kreatif, dan pantang menyerah untuk menciptkan peluang dan nilai baru.

Di waktu dan tempat yang lain ada cerita masa lalu, kehidupan masyarakat sebelum hilirisasi tambang nikel. Biasanya sejak pagi bapak bapak dan ibu ibu berangkat ke hutan untuk pengolah sagu dan bertani, begitupun para nelayan.

Aktivitas ini berjalan rutin setiap hari, cerita seorang bapak yang telah berumur. Tidak ada yang dibeli, semua bahan pokok termasuk sayur terpenuhi dengan baik, bahkan saling memberi. Sebelum hilirisasi nikel, banyak produksi tetapi permintaan kurang. Sebaliknya, saat ini, sedikit produksi tetapi permintaan banyak.

Cerita di atas menggambarkan tiga fenomena, ada harapan dan kegelisaan sosial antar generasi. Hilirisasi sumber daya alam tambang yang tinggi telah mengubah norma dan nilai hidup masyarakat.

Hilirisasi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi sebaiknya berkolerasi positif dengan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan kemajuan teknologi, ekonomi, budaya yang produktif. Perubahan memang ada yang dikehendaki dan ada yang tidak dikehendaki, sehingga harus ada yang menjadi agent of change.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga