Tekan Stunting di Maluku Utara, Muslimat NU dan YAICI Gencarkan Edukasi Gizi
Ternate, malutpost.com – Kebiasaan masyarakat memberikan susu kental manis (SKM) kepada bayi dan balita masih menjadi persoalan dalam pemenuhan gizi anak. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian melalui penguatan edukasi kepada orang tua dan masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam Talkshow Edukasi Gizi Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bertajuk “Meluruskan Persepsi tentang Susu Kental Manis” di Hotel Jati, Kota Ternate, Rabu (19/8/2026).
Dari sisi kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Maluku Utara turut menyoroti persoalan stunting. Berdasarkan data survei 2024, prevalensi stunting Maluku Utara tercatat sebesar 23,2 persen.
Angka tersebut turun dibandingkan 2023 yang mencapai 23,7 persen. Meski demikian, prevalensi stunting Maluku Utara masih berada di atas angka nasional sebesar 19,8 persen.
Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat dan Gizi Dinkes Maluku Utara, Dr. Aspar Abdul Gani, mengatakan Kota Tidore Kepulauan dan Ternate memiliki prevalensi stunting yang relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah lainnya.
Sementara itu, beberapa kabupaten masih menghadapi persoalan stunting, salah satunya Halmahera Selatan yang memiliki jumlah penduduk cukup besar.
Menurut Aspar, edukasi mengenai penggunaan SKM masih perlu diperkuat. Sebab, sebagian orang tua masih menganggap seluruh produk susu memiliki kandungan dan manfaat gizi yang sama.
Padahal, SKM memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga tidak direkomendasikan sebagai asupan gizi bagi bayi dan balita.
“Dinkes tidak merekomendasikan pemberian susu kental manis bagi bayi dan balita. Kalau ada indikasi medis sehingga ASI tidak dapat diberikan, maka pemberian susu formula harus melalui rekomendasi dan pengawasan dokter spesialis anak,” ujar Aspar.
Pentingnya Gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Aspar mengatakan pemenuhan gizi harus diperhatikan sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Menurutnya, orang tua perlu menerapkan empat strategi pemberian makan bayi dan anak (PMBA), yakni inisiasi menyusu dini (IMD), pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI (MP-ASI), serta melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia dua tahun.
Bayi dianjurkan mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, MP-ASI diberikan sesuai usia dan kebutuhan anak dengan tetap melanjutkan pemberian ASI.
Muslimat NU Dorong Edukasi dari Hati ke Hati
Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Soefihara, mengatakan pihaknya memanfaatkan jaringan organisasi hingga tingkat akar rumput untuk memperkuat edukasi gizi.
Menurut Erna, pengurus majelis taklim dan ustazah memiliki kedekatan dengan jemaah sehingga dapat menyampaikan edukasi secara lebih personal.
“Intinya adalah pendekatan personal, pendekatan dari hati ke hati. Seorang ustazah pasti akan lebih dekat dengan jemaahnya,” ujar Erna.
Erna menilai persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi. Perilaku orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak juga menjadi salah satu tantangan.
Ia menemukan ada orang tua yang mampu membeli ikan dan telur, tetapi masih memberikan makanan atau minuman tinggi gula kepada anak. Kebiasaan tersebut dinilai muncul karena masih rendahnya pemahaman mengenai kebutuhan gizi anak.
Muslimat NU kemudian menggandeng Dinkes untuk memberikan pelatihan kepada para kader. Pelatihan tersebut tidak hanya membekali kader dengan pengetahuan gizi, tetapi juga pendekatan psikologis saat mendampingi ibu-ibu balita.
Muslimat NU juga menjalankan program Ibu Asuh Stunting. Melalui program tersebut, kader mendampingi anak yang mengalami stunting sekaligus memantau pemenuhan kebutuhan gizinya.
Di Maluku Utara, Muslimat NU turut menjalankan program Muslimat NU Cantik Mencegah Kemiskinan Ekstrem (Mustika Mesem). Program tersebut menyasar keluarga miskin ekstrem melalui pemberian makanan bergizi.
YAICI Temukan Empat Persoalan Gizi Anak
Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistira, mengatakan pihaknya telah melakukan edukasi dan pemantauan persoalan gizi anak di 33 provinsi di Indonesia.
Dari kegiatan tersebut, YAICI menemukan empat persoalan utama, yakni kesibukan orang tua, pola konsumsi anak yang tidak terkontrol, rendahnya pemahaman mengenai sumber gizi, serta kesalahan persepsi terhadap produk pangan.
“Banyak pola di mana ibunya bekerja, bapaknya bekerja, akhirnya anak dititipkan kepada kakek, nenek, atau pengasuh lainnya,” ungkap Satria.
Menurut Satria, kesalahan persepsi terhadap SKM masih menjadi tantangan besar. Ia memaparkan hasil survei Universitas Islam Bandung (UNISBA) yang menunjukkan sekitar 67,6 persen balita masih mengonsumsi atau terpapar kental manis.
Sekitar 30,4 persen balita disebut mengonsumsi SKM secara rutin sebagai topping makanan. Karena itu, orang tua juga perlu memperhatikan jumlah SKM yang digunakan sebagai topping.
“Hampir seluruh wilayah di Indonesia bahkan jika ditarik sejak 2016, bisa dikatakan 90 persennya menganggap kental manis itu adalah susu. Bahkan, produk tersebut diberikan kepada balita sebagai pengganti ASI,” jelasnya.
Satria menyebut harga yang relatif murah menjadi salah satu alasan orang tua memilih SKM. Selain itu, iklan juga dinilai turut memengaruhi pemahaman masyarakat mengenai produk tersebut.
Berdasarkan survei yang dipaparkannya, sebagian responden bahkan memperoleh informasi yang keliru mengenai SKM dari tenaga kesehatan.
YAICI Soroti Konsumsi Susu Berperisa
Selain SKM, YAICI juga menyoroti kebiasaan orang tua memberikan susu UHT berperisa secara berlebihan kepada balita.
Satria mengatakan pihaknya menemukan anak yang mengonsumsi susu berperisa hingga empat sampai lima kotak dalam sehari. Di sisi lain, anak-anak tersebut masih kekurangan asupan protein seperti ikan dan telur.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya edukasi gizi yang tidak hanya berisi larangan. Orang tua juga membutuhkan contoh menu makanan bergizi yang mudah diterapkan di rumah.
“Kesalahan konsumsi kental manis sebagai pengganti susu berkontribusi langsung pada tidak optimalnya pemenuhan gizi anak. Ketika anak minum kental manis, mereka akan merasa kenyang dan menolak makan makanan padat yang bergizi,” papar Satria.
Karena itu, Satria mendorong keluarga meningkatkan literasi gizi. Ia juga meminta tenaga kesehatan dan komunitas memperkuat edukasi kepada masyarakat.
Kolaborasi antara Dinkes Maluku Utara, Muslimat NU, YAICI, kader kesehatan, dan masyarakat dinilai penting untuk memperkuat edukasi sekaligus mendorong perubahan perilaku keluarga.
Pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga masa pertumbuhan awal menjadi salah satu langkah penting dalam upaya menekan angka stunting di Maluku Utara. (van)