1. Beranda
  2. Feature

Ibu Agustina Rumthe, Guru Sepuh yang Mengabdi di Ujung Pasifik

Oleh ,

(Catatan Perjalanan dari Posi-Posi Rao)

Usianya sudah 68 tahun. Rambutnya memutih. Langkahnya tak lagi setegap guru-guru muda. Seharusnya, di usia itu, ia menikmati hari-hari yang lebih tenang setelah puluhan tahun mengabdi.

Oleh: Abubakar Abdullah

Pagi itu, Ibu Agustina Rumthe kembali berdiri di sekolah. Bukan sebagai guru ASN. Ia telah pensiun sejak 2018. Namun hatinya ternyata belum pernah pensiun. Ia masih datang ke kelas. Masih berdiri di depan murid. Masih mengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Honor yang diterimanya hanya sekitar Rp500 ribu sebulan. Tetapi ia tidak pernah menjadikan angka itu alasan untuk berhenti.

“Saya merasa sayang anak-anak. Kalau tidak ada guru, siapa yang mengajar mereka?”

Kalimat itu terucap sederhana. Namun di Posi-Posi Rao, kalimat tersebut menyimpan puluhan tahun pengorbanan. Sebab Ibu Agustina bukan sekadar seorang guru yang masih mengajar setelah pensiun.

Ia adalah salah satu perempuan yang ikut memastikan sekolah tetap berdiri di sebuah pulau kecil yang jauh dari pusat pemerintahan. Ia pernah menjadi guru ASN di SMP Negeri 1 Morotai.

Namun konflik horizontal yang pecah pada 1999 mengubah hidup banyak warga Morotai. Sentimen suku dan agama memaksa sebagian masyarakat meninggalkan tempat tinggal mereka. Sebagian kemudian mengungsi dan menetap di Posi-Posi Rao.

Di tempat baru itu, mereka tidak hanya harus membangun kembali rumah. Mereka juga harus membangun kembali masa depan anak-anak. Dan di situlah Ibu Agustina memilih untuk tinggal dalam perjuangan. Ia Melihat Anak-Anak yang Hampir Kehilangan Masa Depan Ketika itu, Posi-Posi Rao belum memiliki fasilitas pendidikan yang memadai. Sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas belum tersedia. Anak-anak usia sekolah terus bertambah, sementara ruang kelas dan guru sangat terbatas.

Ibu Agustina melihat keadaan itu. Sebagai guru, ia tidak sanggup berpaling. Bersama sejumlah sahabat dan masyarakat, ia ikut merintis sekolah. Dimulai dari sekolah dasar. Kemudian sekolah menengah pertama. Hingga akhirnya berdiri SMA Kristen Nusa Damai Posi-Posi Rao.

Keterbatasan guru membuat pengabdiannya jauh melampaui batas tugas. Ia pernah mengajar empat mata pelajaran sekaligus. Tidak ada kemewahan. Tidak ada imbalan besar. Tidak ada jaminan bahwa namanya akan dikenang. Tetapi ia tetap mengajar. Sebab yang ada di hadapannya bukan sekadar murid. Yang ia lihat adalah anak-anak yang membutuhkan jalan menuju masa depan.

Tahun 2018, statusnya sebagai guru ASN berakhir. Ia memasuki masa pensiun. Namun ketika banyak orang mulai meninggalkan ruang kelas setelah masa pengabdian selesai, Ibu Agustina justru kembali. Ia tetap datang. Tetap mengajar. Tetap bersama anak-anak.

“Saya tidak menuntut gaji. Saya jalani saja sambil mencari berkat Tuhan di sisa umur ini.”

Mungkin hanya seorang ibu yang benar-benar memahami kalimat itu. Seseorang yang telah memberikan hampir seluruh hidupnya, tetapi tidak lagi menghitung apa yang telah ia berikan.

Yang Ia Minta Bukan Untuk Dirinya

Ada satu hal yang membuat kisah Ibu Agustina terasa semakin dalam. Di tengah pengabdian yang begitu panjang, ia ternyata tidak banyak meminta. Ketika ditanya apa harapannya kepada pemerintah pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, matanya berkaca-kaca. Ia tidak meminta penghargaan. Tidak meminta jabatan. Tidak meminta kemewahan. Ia hanya berkata:

“Harapan saya, mari kita urus pendidikan dengan hati. Dengan cara itu, kita bisa mendapatkan berkat Tuhan.”

Ia berbicara tentang pendidikan. Tentang anak-anak. Tentang masa depan. Bukan tentang dirinya. Tetapi kemudian, di penghujung percakapan, keluar satu permintaan yang begitu sederhana. Dan justru karena sederhana itulah hati terasa sesak. Ibu Agustina berharap ada yang membantu membangun rumah untuk anak semata wayangnya.

“Kalau ada yang bisa membantu, tolong bantu rumah saya. Supaya kalau waktunya saya pergi, ada rumah untuk anak saya.”

Kalimat itu disampaikan lirih. Seorang perempuan yang puluhan tahun membantu membangun masa depan anak-anak orang lain, kini hanya ingin memastikan anaknya sendiri memiliki tempat untuk pulang. Ia tidak meminta rumah besar. Tidak meminta kehidupan mewah. Hanya sebuah rumah. Sebuah tempat yang tetap bisa ditinggali anaknya ketika suatu hari nanti ia sudah tidak ada. Dan mungkin, untuk pertama kalinya pagi itu, sosok guru yang selama ini terlihat begitu kuat tampak begitu rapuh.

Di balik rambut putih dan wajah tuanya, tetap ada seorang ibu yang sedang memikirkan anaknya. Di balik puluhan tahun pengabdiannya, ada seorang perempuan yang tahu bahwa waktunya di dunia semakin terbatas. Dan ia hanya ingin pergi dengan tenang. Mengetahui anaknya masih memiliki rumah.

Di Usia 68 Tahun, Ia Masih Menunggu Anak-Anak Datang

Kisah Ibu Agustina tidak dapat dipisahkan dari anak-anak Posi-Posi Rao. Sebab merekalah alasan mengapa perempuan berusia 68 tahun itu belum benar-benar meninggalkan sekolah. Di pulau itu, sekolah bukan sesuatu yang selalu mudah dijangkau.

SMA Kristen Posi-Posi Rao tidak hanya menampung anak-anak dari Pulau Rao. Sejumlah siswa datang dari pulau tetangga, termasuk Saminyamau. Setiap hari sekolah, mereka harus menyeberangi laut menggunakan perahu. Sebagian diantar orang tua. Sebagian bahkan harus mendayung sendiri.

Bagi anak-anak itu, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Untuk sampai kesana, mereka harus melewati laut. Mereka harus menghadapi angin dan ombak. Namun mereka tetap datang. Karena mereka percaya bahwa cita-cita lebih luas daripada laut yang harus diseberangi. Dan mungkin, salah satu alasan mereka terus datang adalah karena di ujung perjalanan itu ada guru-guru seperti Ibu Agustina. Guru yang masih menunggu. Guru yang masih mengajar. Guru yang percaya bahwa anak-anak di pulau kecil juga berhak memiliki masa depan.

Kemerdekaan di Ujung Laut

Semua kisah itu terasa semakin kuat pada Senin, 17 Agustus 2026. Pagi itu, halaman SMA Kristen Posi-Posi Rao yang menghadap laut menjadi tempat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tidak ada kemegahan seperti upacara di kota-kota besar. Tidak ada fasilitas berlebihan. Pasukan pengibar bendera hanya terdiri dari 13 pelajar, gabungan siswa SMP dan SMA Kristen Nusa Damai. Mereka mengenakan seragam sekolah biasa. Mereka hanya berlatih sekitar satu minggu. Tetapi ketika Merah Putih perlahan ditarik menuju puncak tiang, mereka berdiri dengan penuh keyakinan.

Di hadapan mereka, Ibu Agustina menyaksikan. Mungkin pagi itu ia tidak hanya melihat sebuah bendera yang sedang dikibarkan. Ia sedang melihat hasil dari perjuangan panjangnya. Anak-anak yang tetap sekolah. Anak-anak yang berani bermimpi. Anak-anak yang meski tinggal di pulau kecil tetap berdiri membawa Merah Putih. Dan mungkin, di dalam hati perempuan tua itu, ada kebahagiaan yang sulit diucapkan. Sebab apa yang selama puluhan tahun diperjuangkannya masih hidup. Sekolah masih berdiri. Anak-anak masih belajar. Merah Putih masih berkibar.

Laut Boleh Memisahkan Pulau, Bukan Cita-Cita

Perjalanan menuju Posi-Posi Rao sendiri tidak mudah. Dari Sofifi, perjalanan kami bersama rombongan Dikbud ditempuh menuju Tobelo dan Daruba. Dari ibu kota Kabupaten Pulau Morotai itu, perjalanan dilanjutkan sekitar 1,5 jam melalui jalur darat menuju Wayabula, Morotai Selatan Barat.

Dari Wayabula, perjalanan kembali dilanjutkan menggunakan perahu bercadik menuju Posi-Posi Rao. Perjalanan panjang itu menjadi gambaran betapa beratnya perjuangan pendidikan di Maluku Utara.

Di kota, anak-anak mungkin cukup berjalan kaki, naik kendaraan atau menunggu jemputan untuk pergi sekolah. Di sini, sebagian anak harus menyeberangi laut. Namun laut boleh memisahkan pulau. Tapi laut tidak boleh memisahkan cita-cita. Karena itulah kehadiran pemerintah di wilayah terpencil menjadi penting.

Anak-anak di pulau kecil tidak boleh merasa jauh dari negara hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat pemerintahan. Negara hadir ketika anak-anak tetap bisa sekolah. Negara hadir ketika guru bertahan. Negara hadir ketika pemerintah mau datang melihat sendiri perjuangan mereka.

Seorang Guru yang Mungkin Tidak Akan Masuk Buku Sejarah

Mungkin tidak banyak orang mengenal Ibu Agustina. Mungkin namanya tidak pernah terpampang dalam penghargaan besar. Mungkin kisah hidupnya tidak pernah masuk halaman utama. Tetapi di Posi-Posi Rao, jejaknya ada di mana-mana. Di ruang kelas. Di sekolah yang pernah dirintisnya. Di murid-murid yang pernah diajarnya. Di anak-anak yang masih datang menyeberangi laut untuk belajar. Dan pada pagi 17 Agustus itu, jejak tersebut terlihat dalam 13 pelajar yang berdiri mengibarkan Merah Putih. Seragam mereka sederhana. Upacaranya sederhana. Sekolahnya sederhana. Tetapi perjuangannya tidak sederhana.

Di antara mereka berdiri Ibu Agustina. Seorang guru yang telah memasuki usia senja, tetapi masih memilih berdiri di depan kelas. Seorang guru yang pensiun dari negara, tetapi tidak pernah pensiun dari anak-anak. Seorang guru yang tidak meminta gaji besar. Tidak meminta penghargaan. Tidak meminta kemewahan. Ia hanya meminta pendidikan diurus dengan hati.

Dan untuk dirinya sendiri, ia hanya meminta sebuah rumah kecil agar anaknya memiliki tempat untuk pulang. Dan mungkin akan tiba waktunya ketika Ibu Agustina benar-benar berhenti datang ke sekolah.

Mungkin suatu pagi, anak-anak akan menunggu di kelas, tetapi sosok perempuan berambut putih itu tidak lagi muncul di pintu. Mungkin papan tulis akan tetap berdiri. Buku-buku tetap tersusun. Suara anak-anak tetap memenuhi ruang kelas. Tetapi satu suara akan hilang. Suara seorang guru yang pernah berkata:

“Kalau tidak ada guru, siapa yang mengajar mereka?”

Ketika hari itu datang, semoga anak-anak yang pernah diajarnya mengingat satu hal. Bahwa pernah ada seorang perempuan tua yang memilih menghabiskan sisa hidupnya untuk mereka. Pernah ada seorang guru yang tidak berhenti ketika usia memintanya beristirahat. Pernah ada seorang ibu yang menerima hanya sekitar Rp500 ribu sebulan, tetapi tetap datang karena cintanya kepada pendidikan jauh lebih besar daripada angka itu.

Dan pernah ada seorang perempuan yang sepanjang hidupnya membantu anak-anak lain menemukan jalan menuju masa depan, sementara di penghujung usianya ia hanya berharap anak semata wayangnya memiliki rumah untuk pulang.

Pagi itu, Merah Putih berkibar di atas Posi-Posi Rao. Laut Pasifik meski bergelombang. Perahu-perahu tetap bergerak. Anak-anak tetap menyeberang. Dan Ibu Agustina masih berdiri. Mungkin tubuhnya mulai rapuh. Tetapi pengabdiannya belum selesai. Sebab seorang guru boleh menua. Tetapi cinta kepada murid tidak mengenal usia. Dan mungkin, itulah bentuk kemerdekaan yang paling sunyi sekaligus paling indah:

ketika seorang anak di pulau terpencil tetap memiliki seorang guru yang bersedia menunggunya datang. Di ujung Pasifik itu, Ibu Agustina telah mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan Merah Putih.

Kemerdekaan adalah ketika anak-anak tetap boleh bermimpi. Bahkan ketika mereka harus menyeberangi laut untuk mengejar mimpi itu. Dan selama masih ada guru seperti Ibu Agustina yang bertahan, harapan itu belum padam. Sampai baku dapa lagi, Ibu Agustina. Kami semua hormat.