1. Beranda
  2. Opini

Halmahera Selatan Lumbung Ikan

Oleh ,

Oleh: Putri Ambarwati Dodi
(Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Khairun tinggal di Bajo Bacan)

Secara historis dan geografis, Maluku Utara adalah wilayah yang napas kehidupannya tidak pernah bisa dilepaskan dari laut, jika sejarah masa lalu mengangkat kepulauan ini ke panggung dunia melalui cengkih dan pala, maka masa kini dan masa depan menuntut kita untuk melihat kekayaan lain yang tak kalah berkilau di bawah permukaan gelombang: sumber daya perikanan.

Di antara gugusan pulau yang membentang di bumi Moloku Kie Raha, Kabupaten Halmahera Selatan berdiri sebagai salah satu pilar utama kekuatan bahari tersebut.

Menyebut Halmahera Selatan sebagai "lumbung ikan" bukanlah sebuah retorika atau slogan kosong, melainkan sebuah realitas ekologis, ekonomis, dan historis yang berakar kuat dalam sendi kehidupan masyarakatnya.

Garis pantai yang panjang, perairan teluk yang tenang namun kaya nutrisi, serta bentangan laut lepas yang melintasi Jalur Lintasan Ikan Migrasional menjadikan Halmahera Selatan sebagai kawasan megabiodiversitas laut.

Dari perairan Bacan, Obi, hingga Kepulauan Kayoa dan Gane, laut di wilayah ini memproduksi beraneka ragam hasil perikanan tangkap, mulai dari tuna, cakalang, tongkol, hingga komoditas demersal bernilai tinggi seperti kerapu dan kakap.

Laut tidak sekadar menjadi tempat mencari makan bagi nelayan lokal, melainkan identitas budaya dan penopang ketahanan pangan yang telah berlangsung selama bergenerasi-generasi.

Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, saya melihat bahwa predikat "lumbung ikan" ini bukan sekadar potensi ekonomi modern, melainkan kelanjutan dari peninggalan sejarah kemaritiman Maluku Utara.

Sejak zaman Kesultanan Bacan, laut telah menjadi ruang hidup, sarana konektivitas, dan sumber kedaulatan. Para leluhur kita telah membuktikan bahwa navigasi dan kearifan mengelola laut adalah kunci keberlangsungan hidup.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga