1. Beranda
  2. Opini

Bukan Perangnya, Tapi Cara Pasar Meresponsnya

Oleh ,

Oleh: Hartaty Hadady
(Akademisi bidang manajemen investasi, Unkhair)

Kenaikan harga tidak selalu mencerminkan biaya. Dalam banyak kasus, kenaikan harga lebih mencerminkan ekspektasi yang tidak terkendali, dan disitulah masalah yang sesungguhnya bermula. Yang paling menakutkan dari perang bukanlah perangnya itu sendiri.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana pasar meresponsnya. Perang memang menciptakan tekanan nyata terhadap perekonomian global. Harga energi naik, distribusi terganggu, dan biaya produksi meningkat.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 14 Juli 2026

Dalam kondisi seperti ini, kenaikan harga adalah sesuatu yang dapat dipahami. Harga mencerminkan realitas biaya yang memang berubah.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika harga mengalami peningkatan bukan karena biaya, melainkan karena ekspektasi. Ekspektasi bisnis maupun ekspektasi individu yang panic buying menciptakan peluang dimana harga baru akan terbentuk.

Di banyak pasar lokal, kenaikan harga sering terjadi jauh lebih cepat daripada perubahan biaya riil. Harga bawang, cabe, atau kebutuhan pokok lainnya bisa melonjak dalam hitungan jam setelah muncul isu global.

Bahkan sebelum dampak nyata benar-benar dirasakan dalam rantai pasok. Ini menunjukkan bahwa yang bekerja bukanlah mekanisme biaya, melainkan mekanisme persepsi.

Dalam perspektif manajemen keuangan, fenomena ini dikenal sebagai expectation-driven pricing, ketika harga dibentuk oleh apa yang diyakini akan terjadi, bukan oleh apa yang benar-benar terjadi. Ekspektasi menggantikan perhitungan fundamental.

Masalahnya, ekspektasi memiliki sifat liar, dimana ekspektasi ini mudah membesar dan sulit dikendalikan. Ketika satu pelaku pasar menaikkan harga karena kekhawatiran, pelaku lain akan mengikuti.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga