1. Beranda
  2. Opini

Jalur Maritim, Geoekonomi, dan Politik Bebas Aktif

Indonesia dalam Pusaran Geopolitik Pasifik Barat

Oleh ,

Oleh: Fahri Sibua
(Penggiat Studi Strategi Pertahanan Maritim)

Pasifik Barat tidak lagi hanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Kawasan ini telah berubah menjadi ruang pertemuan antara penangkalan nuklir, sengketa yurisdiksi maritim, pembentukan aliansi pertahanan, dan persaingan penguasaan rantai pasok.

Bagi Indonesia, perkembangan tersebut bukan persoalan yang jauh dari kepentingan nasional. Letak Indonesia di antara Samudra Hindia dan Pasifik menjadikannya negara engsel yang menghubungkan jalur perdagangan, energi, komunikasi, dan pergerakan militer.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 13 Juli 2026

Masalahnya, posisi strategis tidak otomatis menghasilkan kekuatan. Tanpa kapasitas maritim dan ketahanan ekonomi, Indonesia justru berisiko menjadi ruang lintasan bagi kepentingan negara lain.

Ada beberapa isu yang beredar hari ini terkait dengan Uji rudal balistik jarak jauh China dari kapal selam bertenaga nuklir menuju Pasifik Selatan pada 6 Juli 2026, memperlihatkan perkembangan penting dalam kemampuan penangkalan nuklir berbasis laut.

Rudal tersebut membawa hulu ledak tiruan, tetapi arti strategisnya terletak pada kemampuan komando, komunikasi, dan pengoperasian kapal selam yang harus tetap tersembunyi.

Amerika Serikat mengkritik terbatasnya pemberitahuan sebelum peluncuran, sedangkan sejumlah negara Pasifik mempertanyakan dampaknya terhadap stabilitas regional.

Bagi Indonesia, persoalannya bukan semata-mata jarak rudal. Peningkatan operasi kapal selam China akan diikuti peningkatan pemantauan antikapal selam oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Laut China Selatan, Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, Laut Banda, serta Selat Ombai Wetar dapat memperoleh nilai strategis baru.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga