1. Beranda
  2. Opini

Bina Talenta Atlet, Butuh Intervensi Pemda

Oleh ,

Oleh: Jainul Yusup
(Tim Talent Scouting Porprov V, Pengurus KONI Malut dan dosen Fakultas Ilmu Budaya Unkhair)

Pengantar

Maluku Utara adalah tanah para petarung alami. Secara antropologis, historis dan geografis, wilayah kepulauan ini telah membentuk karakteristik fisik masyarakatnya menjadi tangguh, cekatan, dan memiliki daya tahan tinggi.

Dari pesisir Halmahera hingga pegunungan Ternate-Tidore, anak-anak muda di sini tumbuh dengan modalitas fisik yang sangat cocok untuk berbagai cabang olahraga instingtif seperti sepak bola, volly, atletik, dayung, tinju hingga seni bela diri.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Jumat, 3 Juli 2026

Namun, potensi genetis dan bakat alamiah ini ibarat batu permata yang terkubur di dalam lumpur. Keberadaan mereka seringkali baru disadari secara tidak sengaja melalui turnamen-turnamen antarkampung (tarkam) yang dikelola secara swadaya, bukan lewat sistem pemantauan bakat (talent scouting) yang terstruktur.

Saat ini, pembinaan atlet di Maluku Utara berjalan di atas rel "kebetulan". Kita beruntung sesekali melahirkan talenta nasional, tetapi itu terjadi karena faktor determinasi individu sang atlet dan pengorbanan luar biasa dari keluarga mereka, bukan karena hadirnya sistem yang didesain oleh negara.

Ketika daerah lain sudah berbicara tentang sport science(ilmu olahraga) dan nutrisi berbasis data, Maluku Utara masih terjebak pada pola latihan konvensional dengan peralatan seadanya.

Disinilah letak ironinya: kita kaya akan bahan baku talenta, namun miskin dalam manajemen pengelolaan, tanpa intervensi dan sentuhan serius dari Pemerintah Provinsi serta Kabupaten/Kota, bakat-bakat emas ini akan layu sebelum berkembang, atau yang lebih menyakitkan, mereka memilih membela provinsi lain yang menawarkan fasilitas dan masa depan yang lebih menjanjikan.

Menakar Hambatan Infrastruktur dan Anggaran

Jika kita jujur melihat kondisi di lapangan, ada dua tembok besar yang menghalangi laju prestasi olahraga di Maluku Utara; infrastruktur yang minim dan alokasi anggaran yang tidak berpihak, bagaimana mungkin kita menuntut medali emas di tingkat PON (Pekan Olahraga Nasional) jika fasilitas latihan yang tersedia sudah usang atau bahkan tidak ada?

Stadion, lintasan atletik, kolam renang standar kompetisi, hingga gedung olahraga (GOR) serbaguna di sebagian besar wilayah Maluku Utara sangat memprihatinkan. Banyak atlet lokal yang terpaksa berlatih di fasilitas publik yang tidak standar, meningkatkan risiko cedera, dan menghambat adaptasi mereka dengan atmosfer kompetisi resmi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga