(Catatan Sepak Bola)
Jerman: Raksasa Eropa yang Terluka
Oleh: Hudan Irsyadi
(Pengajar di Antropologi Sosial, FIB Unkhair)
Saat ini semua mata tentu tertuju pada perhelatan sepak bola dunia, yaitu World Cup 2026 yang dilaksanakan di tiga negara, Amerika, Kanada dan Meksiko. Sepak bola termasuk salah satu olahraga yang bertransformasi begitu cepat dalam satu dekade ini.
Jika ditarik kebelakang jauh muasal sepak bola, maka ia hanyalah bentuk dari permainan masyarakat tradisional tanpa aturan yang baku. Lambat laun kemudian mengalami perubahan hingga sepak bola itu menjadi sebuah industri di pelbagai belahan dunia.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 18 Juni 2026
Untuk benua Asia, Cina boleh berbangga sebagai negara yang pertama kali memainkan si kulit bundar itu, naman dalam hal transisi perubahan maka Jepang dan negara-negara di Timur Tengah yang mengambil peran penting terkait industrialisasi sepak bola.
Di Eropa, Inggris telah lebih dulu menjadi pelopor sebelum diikuti negara Eropa lainnya semisal Uni Soviet (sekarang Rusia), Jerman, Spanyol dan Italia. Pada medio tahun 1990 orang-orang mulai menganalisis kekuatan sepak bola berdasarkan kompetisi di negara masing-masing.
Meskipun di era 90-an kompetisi Seri A (liga Italia) memegang kunci sebagai liga terbaik Eropa (bahkan dunia) namun tidak berbading lurus dengan timnas Italia itu sendiri.
Piala dunia tahun 90 di Italia terasa bagai sembilu bagi timnas Italia tatkala juaranya adalah tim Jerman, yang kala itu mengalahkan Argentina di final dengan mega bintangnya Diego Armando Maradona. Jerman pun mengunci raihan tiga gelar juara dunia.
Namun semenjak juara di Italia, empat tahun kemudian di piala dunia tahun 1994 di Amerika, timnas Jerman kandas secara mengejutkan di perempat final di tangan Bulgaira dengan bintangnya Hristo Stoichkov.
Baca Halaman Selanjutnya..