1. Beranda
  2. Opini

Suara Mahasiswa Ternate Menggugat Kenaikan Harga BBM

Oleh ,

Oleh: Asma Sulistiawati (Pegiat Literasi)

Gelombang penolakan terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menggema di berbagai daerah, termasuk di Maluku Utara. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Khairun Ternate menggelar aksi demonstrasi pada Senin, 15 Juni 2026. Dalam aksi tersebut, mahasiswa mendesak pemerintah untuk menurunkan harga BBM serta mengevaluasi berbagai kebijakan yang dinilai semakin membebani masyarakat (Tribun Ternate, 15/06/2026).

Aksi serupa juga diberitakan oleh Haliyora.id (15/06/2026) yang menyebut mahasiswa Universitas Khairun turun ke jalan sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga BBM nonsubsidi dan kelangkaan BBM subsidi yang semakin dirasakan masyarakat. Menurut mahasiswa, persoalan tersebut telah berdampak langsung terhadap kondisi sosial dan ekonomi rakyat.

Penolakan terhadap kenaikan BBM sejatinya tidak hanya terjadi di Ternate. Di berbagai daerah, mahasiswa dan elemen masyarakat juga menyampaikan kritik terhadap kebijakan tersebut karena dinilai akan semakin menekan kondisi ekonomi rakyat. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan BBM telah menjadi isu nasional yang memunculkan keresahan luas di tengah masyarakat.

Keresahan mahasiswa bukan tanpa alasan. Sebelumnya, pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Green naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter (TerbitMalut.com, 15/06/2026).

Kenaikan tersebut memicu kekhawatiran berbagai kalangan. Tukang ojek, pedagang, hingga pelaku usaha kecil di Ternate mengaku mulai merasakan dampaknya terhadap biaya hidup dan aktivitas ekonomi mereka. Sejumlah pedagang bahkan mengkhawatirkan kenaikan harga BBM akan mendorong naiknya harga kebutuhan pokok dan biaya distribusi barang (NarasiTimur.id, 10/06/2026).

BBM bukan sekadar komoditas ekonomi biasa. Dalam kehidupan modern, BBM merupakan kebutuhan vital yang memengaruhi hampir seluruh aktivitas masyarakat. Ketika harga BBM naik, biaya transportasi meningkat, distribusi barang menjadi lebih mahal, dan pada akhirnya harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik. Dampaknya paling dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah yang harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah daya beli yang terus melemah.

Bagi wilayah kepulauan seperti Maluku Utara, dampak kenaikan BBM terasa lebih berat. Ketergantungan terhadap transportasi laut dan distribusi antarpulau menyebabkan biaya logistik sangat dipengaruhi harga bahan bakar. Ketika BBM naik, harga berbagai kebutuhan pokok pun berpotensi ikut meningkat sehingga beban masyarakat semakin bertambah.

Baca halaman selanjutnya...

Baca Juga