1. Beranda
  2. Opini

El Nino dan Kolaborasi Produktif

Oleh ,

Oleh: Safruddin Jen
(Rimbawan dan Alumni Universitas Hasanuddin Makassar)

Tahun ini Indonesia mengalami fenomena penurunan drastis curah hujan yang memicu kemarau panjang, suhu udara yang menyengat dan kering. Saat ini, mulai terasa, terutama di Pulau Jawa, beberapa daerah telah mengalami krisis air bersih.

Fenomena ini disebut El Nino. El Nino terjadi karena pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian Tengah dan Timur yang memicu melemahnya angin pasat (angin yang bertiup dari Timur ke Barat).

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 17 Juni 2026

Pelemahan angin pasat ini membuat massa air hangat mengalir ke arah timur menuju Pantai Amerika Selatan, menggeser pembentukan awan hujan dan menyebabkan kekeringan di wilayah Indonesia.

Menurut BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika), El Nino akan terjadi pada pertengahan tahun ini sampai awal tahun 2027. Frekuensi El Nino diperkirakan terjadi setiap 2 – 7 tahun sekali. Untuk itu, aksi mitigasi dampak El Nino secara permanen perlu dilakukan.

Dampak El Nino

El Nino akan menimbulkan dampak berantai, efek domino yang luas dan berbahaya. Sektor yang paling terasa dampak El Nino adalah Kehutanan, Pertanian dan Sektor Kesehatan. Dampak kerusakannya bukan hanya aspek ekologi dan aspek ekonomi tetapi juga aspek sosial budaya.

Dalam bidang kehutanan, dampak yang paling terasa dari El Nino adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan, selanjutnya, mengakibatkan kerusakan habitat satwa dan terjadinya emisi CO2 gas Rumah Kaca (GRK).

Kerusakan habitat satwa mengakibatkan berkurangnya populasi satwa seperti harimau dan gajah. Kebakaran hutan, tidak hanya mengakibtkan satwa mati karena terbakar, tetapi kebakaran hutan akan mengakibatkan ruang dan sumber makanan satwa berkurang.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga