1. Beranda
  2. Opini

HUT Halsel dalam Perspektif Hermeneutika

Oleh ,

Oleh: M. Husni Muslim
(Pemerhati Sejarah dan Budaya Bacan)

Sebelum berpanjang lebar, perlu ditegaskan bahwa seluruh rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Halmahera Selatan (Halsel) dari tahun ke tahun, termasuk yang ke-23 ini, tentu bukan sesuatu yang keliru.

Namun tulisan ini hadir sebagai refleksi sekaligus pengingat bahwa HUT Halsel seharusnya tidak sekadar menjadi perayaan seremonial, pesta rakyat, atau ritual tahunan yang berlalu begitu saja. Momentum ini semestinya menjadi kompas untuk menilai perjalanan daerah dan menentukan arah masa depannya.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 9 Juni 2026

Dalam perspektif hermeneutika, HUT Halsel tidak cukup dipahami sebagai peristiwa administratif yang menandai bertambahnya usia daerah.

Hermeneutika sebagai ilmu penafsiran mengajarkan bahwa setiap simbol, teks, dan peristiwa memiliki makna yang lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.

Hans-Georg Gadamer bahkan menegaskan bahwa memahami masa kini memerlukan dialog dengan tradisi dan masa lalu. Dengan demikian, HUT Halsel harus dibaca sebagai “teks sejarah” yang terus ditafsirkan oleh setiap generasi.

Pemahaman terhadap Halsel tidak dapat dilepaskan dari sejarah yang melahirkannya. Karena itu, pembangunan tidak boleh hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau capaian birokrasi.

Lebih dari itu, pembangunan harus dibaca dalam hubungan yang erat dengan akar sejarah dan kebudayaan masyarakat yang telah hidup jauh sebelum lahirnya Kabupaten Halmahera Selatan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga