Tangisan Anak Joronga untuk Ibu Gubernur Malut
Oleh: Fajri G. Sumbalatu
(Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun)
Di tengah semangat pembangunan yang terus digaungkan, masih ada masyarakat yang hidup dalam keterbatasan pelayanan dasar. Salah satunya adalah masyarakat Bajo Joronga, Kabupaten Halmahera Selatan, yang hingga hari ini masih menanti hadirnya listrik secara penuh di kampung mereka.
Sejak tahun 2018, tiang-tiang listrik telah berdiri di wilayah kami. Kehadirannya sempat membangkitkan harapan bahwa kehidupan masyarakat akan berubah menjadi lebih baik.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 8 Juni 2026
Namun harapan itu perlahan berubah menjadi kekecewaan. Delapan tahun telah berlalu, tetapi aliran listrik yang dijanjikan tak kunjung sampai ke rumah-rumah warga. Tiang-tiang itu tetap berdiri kokoh, tetapi tanpa fungsi yang sesungguhnya.
Akibatnya, masyarakat masih bergantung pada mesin genset sebagai sumber penerangan utama. Setiap bulan warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bahan bakar dan oli.
Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, kondisi ini menjadi beban yang terus menggerus ekonomi rumah tangga. Di saat masyarakat lain menikmati listrik sebagai kebutuhan dasar, warga Bajo Joronga masih harus berjuang untuk mendapatkan penerangan setiap malam.
Lebih dari sekadar soal lampu yang menyala, ketiadaan listrik berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Anak-anak harus belajar dengan penerangan yang terbatas.
Pelaku usaha kecil kesulitan mengembangkan usahanya. Aktivitas ekonomi masyarakat berjalan lambat karena minimnya dukungan infrastruktur dasar.
Padahal listrik bukan lagi kebutuhan tambahan, melainkan fondasi penting bagi kemajuan pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Baca Halaman Selanjutnya..