1. Beranda
  2. Catatan

Catatan

Kapal Riset dan Ironi Kampus Kepulauan

Oleh ,

Oleh: Herman Oesman
(Dosen Sosiologi FISIP UMMU)

“...mampukah kampus-kampus di wilayah kepulauan Maluku Utara menghadirkan kapal riset yang representatif untuk mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat?...”

Beberapa bulan lalu, tepatnya, 23 Januari 2026, Dr. Wildan, S.S., M. Hum., dosen FIB Unkhair, salah satu dari rombongan peneliti Unkhair dinyatakan hilang, setelah longboat yang ditumpanginya terbalik dan tenggelam diterjang cuaca buruk di perairan Tanjung Bibinoi, Halmahera Selatan.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 2 Juni 2026

Hingga kini, tak ada kabar, semua menjejak dalam ingatan. Lahuu alfatihah untuk Dr. Wildan, S.S., M.Hum, semoga Allah SWT menempatkan beliau sesuai amal ibadahnya. Aamiin YRA.

Kejadian tersebut tentu, secara diam-diam menabalkan diskusi panjang, bahwa ada ironi besar bagi dosen dan peneliti dari kampus yang berada di wilayah kepulauan. Bahwa, mendesak dibutuhkan infrastruktur laut yang tangguh, yang representatif.
Dan, dari sini tulisan bermula.

(I). Di tengah realitas geografis, beberapa perguruan tinggi di wilayah Maluku Utara telah "sengaja" menjadikan kata “kepulauan” dan “kelautan” sebagai visi besar yang "ditempelkan" pada institusi. Berharap, dengan visi kepulauan tersebut, dapat menyumbang bagi pembangunan kepulauan Maluku Utara.

Namun, di sinilah, ironi itu terus menghantui. Dosen dan peneliti justru kesulitan melakukan riset pada wilayah laut maupun wilayah kepulauan, karena minimnya kapal riset dan infrastruktur pendukung yang memadai.

Maluku Utara dikenal sebagai wilayah maritim dan wilayah kepulauan, tentu memiliki posisi strategis dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan ekologis bagi masyarakat Indonesia dan dunia.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga