Tak Hanya Selamatkan Mamoa, Konservasi di Pantai Wauwo Kini Hadirkan Harapan Baru bagi Penyu dan Ekosistem Pesisir Halmahera
Jayapura, malutpost.com - Komitmen menjaga kelestarian lingkungan melalui program konservasi berbasis masyarakat kembali menunjukkan hasil positif.
Sebanyak 20 tukik berhasil menetas di Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara, menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Sebanyak 20 tukik atau anak penyu berhasil menetas. Momen sederhana itu menjadi simbol bahwa alam mulai merespons berbagai upaya pelestarian yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat bersama para pendamping konservasi.
Keberhasilan ini terasa istimewa karena setahun sebelumnya, seluruh upaya penetasan semi alami telur penyu di kawasan tersebut belum membuahkan hasil. Tidak ada satu pun telur yang berhasil menetas. Namun kegagalan itu tidak menghentikan semangat masyarakat Desa Mamuya untuk terus belajar dan memperbaiki metode konservasi yang mereka lakukan.
Bagi Garda Multi Gosango dan Sukasimon, warga yang terlibat langsung dalam pengelolaan kawasan konservasi Pantai Wauwo, pengalaman tahun 2025 justru menjadi pelajaran berharga.
Mereka menemukan bahwa lokasi penanaman telur yang digunakan saat itu berada terlalu jauh dari area bertelur alami penyu. Perbedaan karakter pasir dan kondisi lingkungan diduga menjadi penyebab utama gagalnya proses inkubasi.
“Pada tahun 2025 kami mencoba melakukan penanaman telur di lokasi yang ternyata terlalu jauh dari habitat bertelur alami penyu. Setelah dievaluasi, kemungkinan kondisi pasir di area tersebut tidak cocok sehingga telur tidak berhasil menetas. Saat ini lokasi penanaman disesuaikan dengan habitat alami tempat penyu bertelur sehingga kondisi pasir dan lingkungan lebih mendukung proses penetasan,” jelas mereka.
Berbekal pengalaman tersebut, masyarakat kemudian menyesuaikan lokasi penetasan dengan habitat alami penyu. Pendekatan yang lebih dekat dengan kondisi alam ini akhirnya membuahkan hasil. Pada 13 Mei 2026, sebanyak 20 telur berhasil menetas, sementara sekitar 200 butir telur lainnya masih berada dalam proses inkubasi alami.
Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kabar baik bagi konservasi penyu, tetapi juga menunjukkan dampak yang lebih luas dari upaya perlindungan ekosistem yang telah berjalan di Pantai Wauwo sejak tahun 2024.
Awalnya, kawasan ini dikenal sebagai lokasi konservasi Burung Gosong Maluku atau Mamoa (Eulipoa wallacei), satwa endemik Maluku yang bergantung pada pasir pantai panas untuk menetaskan telurnya. Melalui program konservasi yang dikembangkan bersama masyarakat dan akademisi, kawasan bertelur Mamoa seluas kurang lebih 14.400 meter persegi mulai ditata dan dilindungi dari berbagai ancaman.
Hasilnya mulai terlihat. Hingga saat ini, sekitar 400 telur Mamoa berhasil ditetaskan secara semi alami dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Aktivitas edukasi lingkungan juga semakin berkembang, menjadikan Pantai Wauwo sebagai ruang belajar terbuka bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum.
Baca halaman selanjutnya...