Menghadapi Multi-Hazard Events di Pulau Ternate
Oleh: Mohammad Ridwan Lessy
(Dosen Ilmu Kelautan Unkhair dan Plt. Ketua Forum PRB Kota Ternate)
Apabila ditanya apakah kita senang tinggal di kawasan rawan bencana? Kemungkinan sebagian akan mengaku tidak menyukai menetap di wilayah tersebut.
Namun demikian, kita perlu memahami bahwa seluruh wilayah Indonesia terutama pulau Ternate merupakan daerah rawan bencana dengan kategori risiko tinggi.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Jumat, 22 Mei 2026
Tingginya risiko bencana di Ternate disebabkan beberapa faktor;
Pertama, Pulau Ternate merupakan bagain dari Pacific ring of fire, sebuah sabuk lintasan cincin api yang ditandai dengan adanya gunungapi Gamalama yang aktif di tengah-tengah pulau Ternate.
Kedua, Terletak diantara tiga lempeng kompleks dan aktif yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng Indo-Australia yang bertemu di wilayah Halmahera sehingga wilayah ini sangat rawan terhadap gempabumi.
Ketiga, pulau Ternate dikelilingi laut dan berdekatan dengan Samudera Pasifik sehingga fenomena atmosfir seperti El-Nino, La-Nina dan siklon yang terbentuk turut mempengaruhi cuaca ekstrim di wilayah ini; dan
Keempat, Kondisi topografi dan kemiringan lereng yang curam di Pulau Ternate menyebabkan wilayah ini rawan akan bencana longsor dan banjir bandang.
Selain itu, tingginya risiko bencana turut didukung oleh tingginya kerentanan di Pulau Ternate karena faktor-faktor seperti laju pertumbuhan penduduk yang mencapai 2.85% antara tahun 2020-2024 berimplikasi pada kepadatan penduduk rata-rata sekitar 2000 jiwa/km2 di pualu Ternate;
Baca Halaman Selanjutnya..