Saruma: Rahasia di Balik Hidup Rukun Masyarakat Halmahera Selatan
Oleh: Putri Sahara
(Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku utara)
Dalam sosiologi, ada yang namanya kontrol sosial. Di Halmahera Selatan, Saruma berfungsi sebagai pengingat alami bagi masyarakat di Halmahera selatan.
Saruma berfungsi sebagai kontrol sosial yang lebih tajam dari aturan polisi. Ada rasa malu kolektif yang tertanam pada diri: ”Masa kita mau bikin rusak atau berkelahi di rumah kita sendiri?” Kesadaran ini lah membuat warga cenderung lebih toleran dan saling menghargai karena merasa memiliki martabat rumah yang sama.
Jika ada orang yang ingin berbuat kacau atau berkelahi, nilai Saruma akan menegurnya secara halus dengan berkata: “Masa kita mau merusak rumah kita sendiri?” dan di situ lah kesadaran sebagai penghuni rumah yang sama membuat warga cenderung lebih toleran dan saling menghormati.
Di Halmahera Selatan, terdapat fenomena sosial yang sangat luar biasa yang disebut Saruma. Secara harfiah, Saruma berarti “Satu Rumah”. Jika kita bedah menggunakan kacamata sosiologi, inilah alasan mengapa Saruma menjadi rahasia hidup rukun.
Halmahera Selatan adalah wilayah yang sangat beragam. Ada suku Bacan, Makian, Kayoa, Gane, Galela, hingga saudara-saudara kita yang datang dari Jawa, Bugis, dan tempat lainnya. Secara sosiologis, keberagaman ini punya potensi konflik yang tinggi.
Namun, filosofi Saruma berperan sebagai “Lem Sosial”. Nilai ini meruntuhkan dinding pembatas antar suku. Orang tidak lagi berkata “Saya orang Bacan” atau “Saya orang Makian”, melainkan “Kita ini orang Saruma”. Inilah yang disebut dalam sosiologi sebagai Identitas Kolektif.
Dalam sosiologi, ada yang namanya kontrol sosial. Di Halmahera Selatan, Saruma berfungsi sebagai pengingat alami bagi masyarakat. Jika ada orang yang ingin berbuat kacau atau berkelahi, nilai Saruma akan menegurnya secara halus: “Masa kita mau merusak rumah kita sendiri?” Kesadaran sebagai penghuni rumah yang sama membuat warga cenderung lebih toleran dan saling menghormati.
Fenomena Saruma terlihat jelas dalam kegiatan sehari-hari. Mulai dari acara pernikahan, kedukaan, hingga pembangunan fasilitas desa. Warga akan datang membantu tanpa bertanya apa suku atau agama tetangganya.
Dalam sosiologi, ini disebut Modal Sosial. Kekayaan masyarakat bukan hanya soal uang, tapi soal hubungan baik yang membuat segala urusan menjadi lebih mudah dan ringan
Kita bisa melihat bukti hidup Saruma di Pulau Obi. Di tengah derasnya arus industri pertambangan dan ribuan pekerja pendatang, konflik horizontal sangat jarang terjadi. Mengapa? Karena nilai Saruma membuat para pendatang merasa diterima sebagai bagian dari keluarga, dan warga lokal tidak merasa terancam.
Begitu juga di Labuha, pusat peradaban Kesultanan Bacan. Di sini lah. Nilai-nilai adat dan modernitas berjalan beriringan. Tradisi “makan bersama” dalam acara adat bukan sekadar seremoni, melainkan simbol bahwa di Bumi Saruma, semua orang duduk di kursi yang sama tinggi dan berdiri di atas lantai yang sama.
“Sosiologi bukan sekadar ilmu hafalan, melainkan alat untuk memahami bagaimana manusia saling terhubung di dunia yang modern ini.”