Iran: Dari Rekonfigurasi Ekonomi Global hingga Transformasi Tata Dunia
Oleh: Dr. Abd. Rahman, S.S., M.Si.
(Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya-UNKHAIR-Ternate)
Pendahuluan: Teluk sebagai Episentrum Dunia Baru
Dalam sejarah geopolitik modern, hanya sedikit kawasan yang memiliki signifikansi strategis setara dengan Teluk Persia. Kawasan ini bukan hanya pusat cadangan energi dunia, tetapi juga titik temu antara kekuatan global, regional, dan ideologi yang saling berkompetisi.
Dalam konteks ini, Iran muncul sebagai aktor yang tidak hanya bertahan di tengah tekanan internasional, tetapi secara perlahan membentuk ulang arsitektur kekuasaan global.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 6 Mei 2026
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Iran tidak lagi sekadar negara regional yang defensif. Ia telah bertransformasi menjadi aktor strategis yang mampu memanfaatkan ekonomi, politik, dan militer sebagai instrumen hegemoni baru.
Bahkan, pasca konflik terbaru dengan Amerika Serikat, Iran disebut tetap “terluka tetapi lebih kuat secara strategis” karena kontrolnya atas Selat Hormuz.
Fenomena ini menandai sesuatu yang lebih besar dari sekadar konflik regional. Ia menunjukkan lahirnya bentuk hegemoni baru, bukan berbasis dominasi total seperti era Perang Dingin, tetapi berbasis kendali terhadap simpul-simpul strategis global.
1. Rekonfigurasi Ekonomi Global: Iran di Tengah Sanksi dan Multipolaritas
Dalam analisis ekonomi-politik global, posisi Iran menjadi menarik karena ia beroperasi dalam kondisi yang tidak biasa: tekanan eksternal yang ekstrem namun tetap mampu mempertahankan eksistensi negara.
Dalam teori ketahanan ekonomi, kondisi seperti ini sering disebut sebagai “resilient political economy”. Seperti ditegaskan oleh Karl Polanyi, “the economy is embedded in social and political institutions” (Polanyi, 1944/2001:60).
Baca Halaman Selanjutnya..