Faisal ‘Opo’ Anwar, Anak Muda Yang Menolak Menyerah
Oleh: Aloed Totona
Manusia adalah mahluk sosial yang tak selamanya hidup dalam ruang publik yang tentram. Ia akan menghadapi beragam masalah. Tap itu membuatnya semakin kokoh dalam kuat memahami hidup. Begitu juga sebagai individu, ia akan menemukan kontradiksi-kontradiksi kehidupan, baik berdasarkan kenyataan di ruang publik maupun dalam keluarga.
Faisal Anwar bukanlah anak muda yang lahir dari keluarga berada, Ia lahir dari rahim seorang petani. Ia tumbuh dan menemukan eksistensi diri dalam ruang yang kian bergejolak, keras, dan tak berkesudahan. Di ruang itulah Ia kemudian membangun harapan dan impiannya untuk berguna untuk yang lain. Bagi kebanyakan orang, melihat Opo begitulah sapaan akrabnya adalah representasi anak muda yang menolak menyerah pada keadaan.
Ia terus mengayun harapan dan cita-citanya melalui ruang pertemanan dan relasi di level elite, hingga pada posisi saat ini, menjadi anak muda dengan strata sosial yang baik, butuh waktu dan proses panjang, dimana komitmen, kepedulian dan rasa kasih adalah kunci utama ketika berada di tengah kehidupan masyarakat.
Barangkali tanpa berlebihan, hal inilah yang juga diungkapan Aristoteles bahwa harapan adalah impian yang terbangun. Mereka yang tak memiliki harapan dan impian adalah mereka yang bakal hidup tanpa arah. Bagi lelaki kelahiran Topo, Kota Tidore Kepulauan ini, hidup yang tak dirintis dengan keringat, perjuangan dan pengetahuan hanya bakal terjebak pada fanatisme yang berlebihah. Akhirnya, seseorang tidak bisa membedakan mana isu dan mana fakta.
Reputasi dan karir yang dimiliki Opo saat ini tidak membuatnya merasa jumawa. Opo terus merawat hubungan pertemanan tanpa memandang status sosial. Begitulah yang dirasakan orang- orang yang bersentuhan dengannya.
Hal menarik lainnya tentang Opo: dia adalah lelaki murah senyum dan humoris. Itu kerap mengambil insiatif dan adaptatif di tengah orang-orang yang sibuk menunggu perintah. Hal ini saya rasakan suatu waktu ketika berada di kampus A Muhammadiyah Ternate. Ketika itu saya baru tiba di salah satu kedai kopi dan berpapasan dengan Opo “abang mau minum kopi atau teh?” begitu caranya menyapa. Keunikan inilah yang menjadi salah satu modal dalam manifestasi kehidupan sosial seorang Opo.
Mengenal Opo lebih dalam, tidak hanya sebagai kenangan semata, melainkan sebagai spirit bagi kalangan anak muda dalam memahami daerah yang plural agar tetap tegak, ramah, dan manusiawi.
Ini adalah kado istimewa bagi Opo yang kerap mengingatkan bahwa apapun yang dimiliki seseorang tidak mesti membuat sesorang kehilangan moralitas dan pertemanan.
Setidaknya dari perjalananan karir Opo alias Faisal Anwar kita dapat merumuskan dua energi yang selalu menjadi dasar hidupnya yakni, komitmen dan kepedulian. Dari energi komitmen, Opo benar-benar memahami bahwa kekuasaan dan uang kerap membuat seseorang rapuh dalam menjaga komitmen yang sedari awal telah di rawat, namun tidak dengannya. Ia tetap kokoh meskipun rayuan uang datang berkali-kali agar rapuh dari komitmen bersama orang yang telah menbantunya hingga berada pada posisi saat ini.
Sementara dari energi kepedulian, Opo tahu bahwa kepedulian adalah kekuatan yang amat penting bagi jiwa seorang manusia, sebab dari sanalah ia pernah merasakan betapa sulit kehidupan tanpa memiliki apa-apa. Dengan begitu seperti ungkap Al-Ghazali “Jiwa manusia itu seperti cermin yang memantulkan bayangannya. Kebajikan akan membuat jiwa itu bersinar, sementara keburukan akan membuatnya gelap."
Sebagai anak muda, Opo menuliskan sejarahnya sendiri sebagai anak petani yang monolak menyarah pada keadaan. Ia berani menolak stigma bahwa tanpa lahir dari rahim kekuasaan dan uang, seseorang tak boleh menitip harapan berlebihan.
Dari Opo kita belajar betapa pentingnya komitmen dan kepedulian bila seseorang hendak menjadi manusia yang berarti. Dengan demikian, jadikan setiap tantangan sebagai kekuatan dalam merefleksikan diri agar tetap bijak dalam menata kehidupan kedepan.
Tetaplah menebar kebaikan tanpa memandang status sosial seseorang. Sebab hanya dengan begitu nama dan jiwa kita bakal abadi bersama orang- orang yang membutuh berdasarkan karya dan kerja nyata. **