Hikmah Ramadan
Puasa dan Tafakur
Oleh: A. Malik Ibrahim
"Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu’’—An-Nahl ayat 66.
Pernahkah kita membaca berita atau melihat seekor burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas atau sekonyongkonyong meluncurkan dirinya dalam laut untuk mengakhiri hidupnya?
Tentu, tidak! Tak pernah ada cerita burung yang bunuh diri karena kesulitan hidup. Sepertinya burung itu; menyadari benar bahwa demikianlah hidup. Suatu waktu berada di atas, lain waktu terhempas ke bawah. Ada waktu kekenyangan, lain waktu kelaparan.
Atau, misalnya, binatang yang lebih lemah; yaitu cacing. Cacing seolaholah tidak mempunyai sarana yang layak untuk mencari makanan. Dia tidak punya tangan, kaki, tanduk atau bahkan mungkin ia tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi cacing serupa dengan makhluk Tuhan lainnya, yaitu ia mempunyai perut yang bila tidak diisi, dia akan mati.
Beda dengan manusia. Kita itu diberi ilmu agar tidak tersesat. Ihdinashirathal mustaqim. Dan puasa ditunjukkan oleh sikap Allah sebagai metode bagi proses pembebasan dari kejatuhan tadi. Tapi mengapa manusia yang diciptakan Tuhan paling sempurna, banyak yang kalah dan putus asa dalam hidup, lalu bunuh diri?
Burung dan cacing adalah ibra dan contoh teladan dari makhluk lain yang sangat konsisten dan istiqamah.
Karakter Manusia
Al-Quran menyebut manusia dengan empat istilah: basyar, ins, insân, dan nâs. Bila dikaji secara terminologis, manusia ada yang pada level basyar, ins, insân, dan nás.
Baca Halaman Selanjutnya..