Hikmah Ramadan
“Dicari” Lailatul Qadar
Oleh: Prof. Muhaemin Latif
(Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar)
Sepuluh malam terakhir bulan Ramadan adalah momentum yang paling ditunggu bagi umat Islam, khususnya bagi orang-orang yang berpuasa Ramadan.
Momen ini sebagaimana deverbalisasi dalam pesan-pesan profetik Nabi Muhammad saw sebagai masa turunnya lailatul qadar.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Jumat, 13 Maret 2026
Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad saw mengatakan “carilah malam-malam lailatul qadar pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir Ramadhan”.
Selain hadis, distingsi dan rahasia lailatul qadr juga diabadikan dalam QS al-Qadr ayat 1-5. Titah Suci Tuhan tersebut menyebutkan bahwa malam lailatul qadar diyakini sebagai malam yang hikmahnya lebih baik dari seribu bulan (sekitar 83 tahun).
Malam dimana para malaikat akan turun membawa hikmah kemuliaan kepada orang-orang mukmin yang spesial.
Kesadaran atas distingsi lailatul qadr tersebut membuat sebagian umat Islam berlomba-lomba i'tikaf di masjid. I’tikaf sendiri, menurut Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’, berarti berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, terutama pada sepuluh terakhir bulan Ramadan.
Animo umat Islam yang luar biasa terhadap lailatul qadr dapat dilihat dengan ramainya jamaah di masjid-masjid besar untuk beri'tikaf.
Baca Halaman Selanjutnya..