1. Beranda
  2. Hikmah Ramadan

Hikmah Ramadan

Kayu Bakar Ramadan

Oleh ,

Oleh: Gufran A. Ibrahim
(Profesor Antropolinguistik Universitas Khairun)

Ini bukan soal tipologi puasa yang dikatakan Hujjatul Islam, rahimahullah, Imam Al-Ghazali. Bukan tentang tiga tipe orang berpuasa: puasa khalayak, puasa orang khusus, dan puasa orang khusus yang khusus. Ini pernak-pernik budaya. Tradisi atau kebiasaan yang menyertai pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Secara historis, Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 mencatat, puasa telah melintasi sejarah agama-agama Abrahamik selama berabad-abad; dan sejak Islam menetapkannya sebagai pilar ketiga dalam Rukun Islam, Ramadan punya warna-warni tradisi secara lintas-budaya, bahkan lintas-bangsa.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 11 Maret 2026

Setidaknya ada tiga tradisi:budaya kuliner,keguyuban, dan aktivitas unik jelang dan selama Ramadan. Kita bisa menemukan tradisi ini pada negara berpenduduk mayoritas hingga minoritas Muslim.

Maroko, misalnya, punya tradisi Nafar, berseru di jalan-jalan kampung, membangunkan orang sahur dengan musik tradisional. Di Kamerun, ada anak-anak menggunakan pakaian adat melintasi kampung mengumpulkan permen dan uang tunai.

Ketika permen atau uang tunai didapat, anak-anak itu riang gembira bersorak dengan ucapan lailatul qadar, laitatul qadar. Di Mesir lain lagi, lampu fanous dinyalakan sepanjang jalan di malam hari. Pada beberapa negara di Afrika, memukul gendang sebagai perayaan menyambut datangnya Ramadan.

Di Rusia, ada yang unik, anak-anak sekolah diberi tugas membuat catatan untuk malam-malam taraweh. Catatan-catatan yang terpilih diberi hadiah umrah.

Negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Tajikistan, punya kuliner khas Ramadan bernama ghaziya. Azerbaijan punya piti ‘sup tradisional.’ Di Turkmenistan lain lagi. Tabuhan genderang (dram) tradisional menandai datangnya Ramadan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga