(Geothermal Jangan Sampai Lolos)
Gereja Ayam, Padi Ladang dan Telaga Ranu
Oleh: Tiklas Pileser Babua
(Pemuda Adat Sahu)
Masyarakat adat Sahu di Halmahera Barat memiliki sistem pengetahuan lokal yang terbentuk melalui relasi panjang antara manusia, alam, dan nilai-nilai kosmologis.
Salah satu wujud konkret dari kearifan tersebut adalah praktik menanam padi ladang secara turun-temurun, yang tidak hanya berfungsi sebagai sistem produksi pangan, tetapi juga sebagai pranata sosial dan spiritual.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Sabtu, 7 Maret 2026
Dalam lanskap ekologis dan simbolik itu, Telaga Ranu menempati posisi penting sebagai ruang hidup yang sarat makna historis dan kosmologis.
Kearifan lokal padi ladang dalam masyarakat Sahu di Halmahera Barat bukan sekadar teknik produksi pangan, melainkan sistem pengetahuan ekologis dan spiritual yang menyatu dengan lanskap alam.
Di sekitar Telaga Ranu, praktik padi ladang tumbuh dalam kerangka kosmologi yang memandang tanah, hutan, dan air sebagai satu kesatuan ruang hidup.
Pola tanam, pembukaan lahan, masa bera, hingga ritual sebelum dan sesudah panen merefleksikan prinsip keseimbangan antara manusia dan alam.
Dalam konteks ini, penting menambahkan dimensi kepercayaan masyarakat Sahu masa lalu yang memperlihatkan bagaimana alam bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga ruang sakral.
Baca Halaman Selanjutnya..