Nuzulul Qur’an Menuju Lisan yang Menyejukkan: Spirit Qaulan Layyina
Oleh: Nurul Zakiah, S.Kom.I., M.Sos
(Ahli Pertama Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Pulau Ternate)
Ramadhan 1447 Hijriyah tanpa disadari sudah berada pada fase pertengahan, atau fase sepuluh hari kedua Ramadhan. Jika pada sepuluh hari pertama Ramadhan dikatakan fase meraih rahmat, maka pada sepuluh hari kedua yaitu fase meraih pengampunan (maghfirah).
Pada fase kedua ini, tepatnya 17 Ramadhan umat Islam sering memperingatinya sebagai peristiwa Nuzul Qur’an (turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW).
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Jumat, 6 Maret 2026
Peristiwa ini bukan sekadar kenangan sejarah. Turunnya Al-Qur’an bukan pula hanya sebagai awal memulai peradaban ilmu, tetapi juga membangun peradaban komunikasi.
Al-Qur’an hadir memperbaiki cara manusia berbicara, berdialog, berdakwah, bahkan berdebat. Salah satu ajaran yang mendasar adalah adab berbicara, yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai qaulan layyina “perkataan yang lembut”.
Dalam konteks konflik sosial, keluarga, dan dakwah, qaulan layyina menjadi spirit komunikasi dalam Islam yang menyejukkan dan mendamaikan.
Allah SWT berfirman : “Dan ucapkanlah kepada manusia dengan perkataan yang baik.” (QS. Al Baqarah : 83)
Ayat ini menegaskan bahwa perkataan yang baik adalah bagian dari keimanan dan tindakan nyata seorang Muslim.
Adab berbicara bukan sekadar etika sosial, tetapi ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dalam konteks Nuzulul Qur’an, wahyu pertama yang turun adalah suruhan untuk membaca dan berbicara dengan hikmah (lihat QS. Al-‘Alaq: 1–5), maka sudah seyogyanya kita menjadikan lisan sebagai alat dakwah yang menyejukkan.
Baca Halaman Selanjutnya..