Omong Kosong Visi Agromaritim Bassam-Helmi
Oleh: M. Tamhir Tamrin
(Sekjend BEM FIB Unkhair dan Warga Desa Pigaraja)
Halmahera Selatan bukan sekadar nama kabupaten di peta Maluku Utara. Ia adalah ruang hidup yang dibentuk oleh laut dan darat secara bersamaan. Desa desa berdiri di pesisir, di kaki bukit, di tepian sungai.
Aktivitas ekonomi bergantung pada pergerakan. Ikan harus sampai ke pasar. Hasil kebun harus diangkut ke ibukota kabupaten. Anak sekolah harus menyeberang.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 3 Maret 2026
Pasien harus dirujuk. Dalam wilayah kepulauan seperti ini, konektivitas bukan pelengkap pembangunan. Ia adalah fondasi.
Karena itu, ketika visi agromaritim digaungkan sebagai arah pembangunan, publik wajar berharap banyak. Agromaritim secara konseptual berarti penguatan sektor pertanian dan kelautan secara terpadu.
Laut dikelola produktif dan aman. Pertanian ditopang infrastruktur dan distribusi yang lancar. Rantai logistik diperkuat.
Nilai tambah diciptakan di dalam daerah. Secara teori, Halmahera Selatan memang cocok dengan konsep itu. Namun realitas sosial tidak bisa ditutupi oleh konsep.
Empat tahun terakhir menjadi periode yang cukup untuk melihat apakah keselamatan dan konektivitas benar benar menjadi prioritas. Pada 18 Juli 2022, tragedi KM Cahaya Arafah terjadi di perairan Tokaka, Gane Barat.
Baca Halaman Selanjutnya..