(Catatan Pendek Monolog Kolano Zainal Abidin Syah)
“Sang Kolano Pelengkap Kedaulatan”
Oleh: Syaiful Bahri Ruray
Akh…kita-kita putra Jaziratul Mulk, sesungguhnya adalah anak-anak yang terlahir dari rahim perlawanan. Karena Jazirah ini, adalah kosmopolit sejak awal ceritanya. Walau harmoni memang menjadi catatan awal sejarah kita.
Terbilang sejak abad ke-7 Masehi, perahu Junk Dinasti T’ang dari Tiongkok, telah kita terima dengan tangan berbuka. Juga pengunjung Melayu, Gujarat, dan Jawa.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Sabtu, 28 Februari 2026
Semua mereka, telah kita terima dalam damai dan tangan terbuka. Dengan rasa egalitarian, tak ada aroma monopoli maupun hegemoni dalam relasi sosial kita.
Makanya para ahli sejarah menyatakan kitalah kosmopolit awal Nusantara. Aroma cengkih dan pala kita, mewarnai Jalur Sutera (Silk Road), yang memang berawal dari Jalur Rempah (Spice Road) di Jaziratul Mulk. Karena dari sinilah awal Spice Roots (bibit rempah) berawal mula dalam sejarah dunia.
Dari konfigurasi seperti itulah, kita-kita terbentuk, mindset terbangun, membentuk karakter dan menggariskan takdir kita-kita selaku anak negeri. Semua berasa sepenanggungan, memiliki jiwa dan rasa yang sama, karena terbentuk oleh kesamaan bingkai dimensi sejarah dan budaya.
Lalu, mengapa kita melawan, menjadi generasi perlawanan?
Ketika formasi egalitarian sosial kita diusik kekuatan asing kemudian hari. Karena semerbak aroma cengkih dan pala kita, menjadikan seisi dunia melirik mencari jalan untuk menuju Jaziratul Mulk.
Tatkala jatuhnya Konstantinopel, ibukota Byzantium, ke tangan Mehmed II. Eropa yang tercekik, mecari jalan lain, nyaris spekulatif, bahkan sebenarnya manipulatif.
Baca Halaman Selanjutnya..