1. Beranda
  2. Hikmah Ramadan

Puasa dan Ketidakadilan Struktural: Ketika Ramadan Kehilangan Daya Gugah Sosial

Oleh ,

Jemaah Bertanya, Ustad Menjawab

Pertanyaan:

Assalamualaikum, Ustad. Jika puasa mengajarkan empati pada yang lapar, mengapa ketidakadilan dan kemiskinan struktural jarang menjadi isu utama Ramadhan? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Ma syaa Allah Pertanyaan yang menukik tajam ke jantung sosiologi agama.

Mengapa bulan yang "lapar" ini seringkali gagal melahirkan kemarahan terhadap sistem yang memproduksi kelaparan itu sendiri?

​Menurut ustadz ada beberapa lapisan alasan yaitu:

​Pertama: Desain Khotbah cenderung cari "Aman" (Status Quo) yang mana Mimbar-mimbar Ramadhan seringkali dikelola atau dipengaruhi oleh struktur yang tidak ingin ada "kegaduhan" sosial.

Isu kemiskinan struktural bersifat politis dan konfrontatif karena ia menunjuk hidung: Siapa yang membuat kebijakan? Siapa yang menimbun lahan? Siapa yang menguras hutan? dan Siapa yang menggaji murah?

Akibatnya Mubaligh lebih sering memilih tema "Keajaiban Sedekah" atau "Pahala Sabar". Tema ini menenangkan hati semua orang—si kaya tidak merasa tertuduh, dan si miskin merasa penderitaannya bernilai pahala.

​Kedua: Jebakan "Filantropi Karitatif" (Efek Sembako). ​Yang mana sering kita dapati Ramadhan telah direduksi menjadi musim bagi-bagi takjil dan santunan saja.

Secara psikologis, ini disebut sebagai moral licensing: Yaitu setelah seseorang memberi zakat fitrah atau sedekah 100 ribu rupiah, mereka merasa sudah "lunas" tugas sosialnya.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga