1. Beranda
  2. Opini

Risiko Usaha di Daerah Kepulauan: Antara Jarak, Infrastruktur, dan Ketidakpastian Pasar

Oleh ,

Oleh: Reza Pramadani Saleh
(Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun)

Pelaku usaha di daerah kepulauan seperti Maluku Utara menghadapi tantangan yang tidak sepenuhnya dialami oleh pelaku bisnis di wilayah perkotaan besar.

Selain persoalan modal dan persaingan pasar, faktor geografis, keterbatasan infrastruktur, serta ketidakpastian distribusi menjadi risiko nyata yang dapat menghambat keberlanjutan usaha.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 24 Februari 2026

Jarak antarpulau seringkali menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha di daerah kepulauan, terutama di wilayah terpencil yang berada jauh dari pusat kota.

Keterbatasan infrastruktur, transportasi, serta ketidakpastian distribusi seringkali menyebabkan biaya logistik meningkat. Dampaknya, harga barang di tingkat konsumen menjadi lebih mahal dibandingkan di wilayah perkotaan.

Kondisi tersebut dapat dilihat secara nyata di Desa Lelei, salah satu desa terpencil di Kabupaten Halmahera Selatan. Desa ini berada jauh dari pusat perdagangan maupun ibukota kabupaten, sehingga proses distribusi barang membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih besar.

Kapal pengangkut barang biasanya hanya beroperasi sekitar tiga kali dalam satu minggu. Jika cuaca buruk terjadi, jadwal tersebut bisa tertunda bahkan dibatalkan, sehingga stok barang di desa menjadi tidak menentu.

Dalam proses distribusi, pelaku usaha harus menanggung berbagai biaya tambahan. Sebelum barang dimuat ke kapal, pedagang harus membayar buruh angkut sekitar Rp100.000 hingga Rp120.000 per orang untuk sekali kerja.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga