Dari Viral ke Krisis: Tantangan Marketing Modern
Oleh: M. Galu Aditya
(Mahasiswa)
Indonesia adalah negara dengan pengguna media social yang sangat massif. Hal ini, membuat penyebaran opini terkait sebuah kejadian akan semakin mudah, terutama bagi permasalahan yang berhubungan dengan buruknya kebijakan pemerintahan.
Tindakan tak bermoral, ataupun sekadar melibatkan artis atau influencer yang sangat terkenal. Ini menjadi alasan munculnya cancel culture yang dapat menjadi peringatan dini bagi perusahaan untuk menjaga citra baik.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 24 Februari 2026
Penerapan cancel culture adalah bentuk hukuman dengan penarikan dukungan pada individu ataupun Lembaga bahkan bisnis yang melakukan Tindakan tidak etis.
Populernya Cancel Culture bermula dari Korea Selatan dan Amerika Serikat sebagai bentuk kepatuhan yang tinggi. Cancel culture dapat menjadi peringatan dini bagi ;perusahaan Indonesia agar menyesuaikan strategi marketing agar terhindar dari permasalahan reaksi masyarakat.
Terkadang, banyak perusahaan yang memilih mengejar exposure yang tinggi tanpa melihat dampak yang akan datang. Perusahaan harusnya memikirkan bagaimana strategi promosi yang tidak akan membawa reaksi negatif yang akan sangat menyerang mental dan berpengaruh terhadap citra perusahaan secara keseluruhan.
Di Indonesia, masyarakat akan melakukan cancel culture atau boycott dengan skala yang besar bahkan akan sangat berpengaruh secara jangka panjang.
Contohnya, aksi cancel culture yang di alami oleh influencer Julia Prastini atau lebih dikenal dengan Jule. Usai viralnya kasus perselingkuhan yang menyeret dirinya.
Baca Halaman Selanjutnya..