1. Beranda
  2. Feature

Ketika Alam Dijaga dengan Ikhlas

Oleh ,

Menyinggahi Wisata Mangrove Ubli, Desa Sowoli, Haltim yang Tetap Merawat Keaslian Alam 

Oleh: Irham Hi. A Rahman

Wisata Mangrove Ubli, salah satu destinasi wisata, yang kini lagi hits di Halmahera Timur. Namun, fasilitas di tempat wisata ini semuanya terlihat sederhana dan tetap alami. Ini karena bentuk kepedulian warga Desa Sowoli untuk menjaga alam secara sukarela. 

Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), dikenal sebagai salah satu daerah tambang di Maluku Utara. Bukan tanpa alasan, di dalam perut bumi Haltim itu tersimpan nikel yang terbilang besar di Indonesia, selain potensi bijih besi dan emas.

Tak heran, jika saat tiba di wilayah Haltim banyak ditemukan lahan bekas pertambangan atau masih dalam proses penambangan yang begitu tandus dan dipenuhi alat berat yang tengah bekerja.
Meski begitu, masih ada bagian dari wilayah Haltim yang dapat dinikmati. Alamnya yang masih asli dan indah, jauh dari hiruk-pikuk alat berat dan debu industri yang mengganggu.

Wajah itu hadir dalam hamparan pesisir, laut yang tenang dan bersih, dihiasi pepohonan mangrove seperti di Ubli yang masih terjaga dan membuat suasana begitu tenang juga nyaman. Di antara pepohonan mangrove itu, terdapat jembatan kayu seratusan meter yang dibuat seolah membelah lokasi tersebut.  Jembatan tersebut menjadi ikon Ubli sekaligus spot foto bagi para pengunjung.

Wisata Mangrove Ubli, berada di Desa Sowoli, Kecamatan Maba Selatan. Untuk bisa mencapai Ubli hanya butuh waktu sekitar dua jam perjalanan dari pusat Kota Maba. Perjalanan jalur darat dari Maba ke arah selatan dan melalui pesisir. Ada beberapa desa yang dilalui diantaranya, Desa Waci dan Bicoli. Untuk akses jalan raya, dari ibukota ke Bicoli masih termasuk baik, namun dari Bicoli ke Ubli jalannya masih kategori sirtu juga rusak.

Akhir pekan lalu (7/2/2026) pekan lalu, Malut Post, bersama sejumlah rekan jurnalis yang bertugas di Halmahera Timur berkesempatan mengunjungi Wisata Mangrove Ubli yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Halmahera Tengah.

Sesampainya di Ubli, disambut semilir angin laut, suara air yang menyentuh akar-akar mangrove, serta hijaunya pepohonan yang tumbuh alami. Tidak ada bangunan megah. Tidak pula hiruk-pikuk keramaian. Yang ada hanyalah alam yang berbicara dengan caranya sendiri, tenang, jujur, dan apa adanya.

Namun, keindahan Ubli bukan sekadar cerita tentang alam. Ia adalah kisah tentang kesadaran kolektif masyarakat, terutama para pemuda Desa Sowoli, yang memilih bergerak menjaga dan mengelola apa yang mereka miliki.

“Jadi wisata ini kami kelola lewat Pokdarwis, gabungan dari pemuda-pemuda Desa Sowoli,” ujar Sofyan Umar, salah satu pengelola wisata, saat ditemui di lokasi.

Dari Mangrove Biasa Menjadi Ruang Harapan

Bertahun-tahun, kawasan mangrove Ubli sudah menyatu dengan warga. Mulai dari spot memancing, menjadi tempat berteduh kala sinar matahari membakar kulit. Kini, fungsi hutan bakau itu semakin terlihat. Tak hanya sebagai penahan ombak, Ubli kini menjadi destinasi wisata di Haltim yang banyak peminatnya serta ramah lingkungan.

Pembentukan Ubli sebagai destinasi wisata dimulai pada 2024 lalu, oleh para pemuda Desa Sowoli.
Untuk pengelolaan secara profesional, para pemuda ini membentuk sebuah tim yang disebut dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pemuda pendiri Pokdarwis ini bukanlah pengusaha, atau investor dengan dana besar, mereka hanyalah anak-anak kampung yang memilih bergerak demi masa depan desanya.

Sejak itu, pengelolaan Wisata Mangrove Ubli mulai aktif hingga saat ini. Untuk masuk ke lokasi wisata ini, setiap pengunjung hanya membayar karcis  senilai Rp5000.

Mereka begitu semangat dalam mengelola sumber daya alamnya ini, meski hanya dengan peralatan seadanya, mereka juga rutin membersihkan kawasan mangrove, menata jalur kunjungan, serta menjaga kebersihan lingkungan. Semua dilakukan secara sukarela, tanpa upah, tanpa tuntutan, bahkan tanpa jaminan bahwa jerih payah mereka akan bernilai materi.

Bagi mereka, Ubli adalah milik bersama. Menjaganya adalah tanggung jawab bersama. Setiap pekan, pembersihan rutin dilakukan. Sampah yang terbawa arus laut dipungut satu per satu. Ranting dan daun kering dibersihkan dari jalur wisata. Tidak ada jadwal resmi, tidak ada sanksi. Kesadaran menjadi aturan tertinggi.

“Kami Pokdarwis dan masyarakat di sini yang bersihkan lokasi ini. Semua kami lakukan secara sukarela, tidak ada yang dibayar,” ucap Sofyan dengan wajah penuh keikhlasan.

Gerakan menjaga Ubli tidak berhenti di tangan pemuda. Masyarakat Desa Sowoli, bahkan para ibu-ibu pun, mengambil peran. Meski hingga kini wisata mangrove Ubli belum memberikan nilai tambah ekonomi yang besar, keterlibatan warga tetap tinggi.

Saat ada wisatawan datang, dapur-dapur rumah warga mulai menyala. Mereka menyiapkan hidangan tradisional yang oleh warga setempat dikenal sebagai “makanan kobong”, menu sederhana namun kaya rasa. Pisang rebus, ubi, ikan bakar, sayur mayur, serta berbagai hidangan kampung lainnya disajikan sesuai pesanan pengunjung, dengan harga yang sebelumnya disepakati bersama.

Karena itu tak ada daftar harga resmi. Penduduk berbagi rasa dan keramahan khas desa. Dari sanalah, warga memperoleh sedikit tambahan penghasilan—bukan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai bonus dari upaya menjaga alam.

Ubli tidak hanya hidup sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang budaya. Setiap momentum Lebaran, kawasan ini menjadi pusat Festival Cer-Cer, tradisi mengurung ikan dari laut sampai ke darat yang berlangsung selama seminggu. Festival ini menjadi ajang berkumpul, berbagi cerita, sekaligus memperkenalkan kearifan lokal kepada pengunjung dari luar yang datang.

“Setiap akhir pekan selalu ada pengunjung yang datang, meski belum ramai. Ubli biasanya ramai saat hari-hari besar, seperti Lebaran dan libur akhir tahun,” ujar Sofyan.

Upaya masyarakat Desa Sowoli perlahan mendapat respons dari pemerintah. Pada 2025, Pemerintah Daerah melalui APBD mulai membangun fasilitas penunjang wisata, seperti gazebo. Wisatawan pun mulai berdatangan, tidak hanya dari wilayah sekitar, tetapi juga dari Kota Ternate dan daerah lain di Maluku Utara.

“Harapan besar kami, ke depan Ubli tidak hanya dikenal oleh masyarakat Halmahera Timur dan Maluku Utara, tapi juga bisa menjadi daya tarik wisatawan mancanegara,” harapnya.

Pemerintah daerah juga merespons rencana pembangunan jembatan wisata tambahan sebagai akses menuju kawasan mangrove. Meski demikian, para pengelola menyadari masih banyak kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, seperti tempat sampah, ruang ganti, viar, dan fasilitas pendukung lainnya.

Pokdarwis yang digawangi Faisal Taha itu berharap perhatian pemerintah dapat terus berlanjut, tanpa menghilangkan nilai utama yang telah tumbuh di Ubli, yakni pengelolaan wisata berbasis kesadaran dan partisipasi masyarakat.

“Memang ada respon baik dari pemerintah daerah. Tapi kami berharap ke depan ada fasilitas penunjang lain yang bisa dihadirkan, mulai dari tempat sampah, viar, dan fasilitas pendukung lainnya,” tambahnya.

Di tengah geliat pembangunan pariwisata yang kerap identik dengan beton, modal besar, dan eksploitasi, Wisata Mangrove Ubli menawarkan pelajaran berbeda. Bahwa pariwisata dapat tumbuh dari bawah, dari kesadaran, dari gotong royong, dan dari rasa memiliki terhadap alam.

Ubli bukan hanya tentang mangrove dan laut. Ia adalah tentang manusia yang memilih menjaga, tentang desa yang bergerak tanpa pamrih, dan tentang harapan sederhana agar alam tetap lestari, budaya tetap hidup, dan desa perlahan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

Di ujung timur Halmahera, Ubli berdiri sebagai pengingat bahwa keindahan sejati lahir ketika alam dan manusia berjalan beriringan tanpa harus merusaknya. (irh)