Refleksi Hari Pers Nasional
Ketika Jurnalis Terlalu Lama Memuji
Oleh: Idham Hasan
Jurnalisme modern dibangun di atas prinsip independensi, verifikasi, dan tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Dalam praktiknya, jurnalis tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pengawas kekuasaan serta mediator realitas sosial.
Namun, dalam dinamika produksi berita kontemporer, terutama di era digital yang menuntut kecepatan dan popularitas, muncul kecenderungan narasi yang sarat pujian terhadap individu, institusi, atau kebijakan tertentu.
Pujian yang berlebihan dan berkepanjangan berpotensi mengaburkan fungsi kritis jurnalisme serta menggeser batas antara peliputan objektif dan promosi terselubung.
Tulisan ini membahas dampak fenomena tersebut terhadap integritas profesi jurnalistik, kualitas informasi publik, dan struktur wacana demokratis.
Secara normatif, objektivitas dalam jurnalisme bukan berarti ketiadaan perspektif, melainkan komitmen terhadap akurasi, keberimbangan, dan transparansi metodologis.
Jurnalis diharapkan menyajikan fakta yang telah diverifikasi serta memberi ruang bagi berbagai sudut pandang yang relevan.
Ketika pujian mendominasi narasi, keseimbangan tersebut menjadi terganggu. Liputan cenderung menonjolkan keberhasilan atau citra positif tanpa menyertakan konteks kritis yang memadai.
Dalam kondisi demikian, pembaca tidak memperoleh gambaran yang utuh mengenai isu yang diliput, melainkan versi realitas yang telah difilter melalui sudut pandang apresiatif.
Baca Halaman Selanjutnya..