Laut Diabaikan, Rakyat Dikorbankan: Refleksi 79 Tahun HMI di Maluku Utara
Oleh: Ikrar Muhamad
(Kabid kemaritiman HMI Cabang Ternate)
Indonesia negara kelautan yang ditaburi pula-pulau. Laut bukan pemisah, melainkan penghubung peradaban ruang hidup, jalur sejarah, sekaligus simpul pertemuan dunia.
Dari jalur rempah hingga lintasan perdagangan global hari ini, laut Indonesia telah lama menjadi ruang strategis dunia. Tak berlebihan jika Indonesia kerap dielu-elukan sebagai negeri eksotis dunia dan titik temu peradaban global.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Jumat, 6 Februari 2026
Namun problemnya, narasi besar itu terlalu sering berhenti sebagai kebanggaan simbolik: indah di pidato, laku di pariwisata, tetapi miskin keberpihakan dalam kebijakan.
Ketika negara menyebut dirinya maritim, laut justru lebih sering dijadikan komoditas dan slogan, bukan fondasi cara berpikir dan bertindak.
Dalam konstruksi besar itu, Maluku Utara bukan wilayah pinggiran, melainkan pusat sejarah maritim dunia. Laut Maluku adalah ruang perjumpaan global tempat peradaban bernegosiasi, berebut pengaruh, dan membentuk sejarah dunia.
Identitas Maluku Utara sejak lahir adalah identitas bahari, bukan daratan, bukan kontinental, dan jelas bukan identitas birokratis yang kaku.
Namun hari ini, identitas itu direduksi oleh kekuasaan yang melihat laut hanya sebagai batas wilayah, bukan sebagai pusat kehidupan.
Baca Halaman Selanjutnya..