Membangkitkan Melek Ekologi untuk Menyelamatkan Mangrove
Oleh: Arlan Maulana Putra
(Anggota Independensia dan Mahasiswa PPKn Unkhair)
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, di mana beton dan baja mendominasi lanskap, mangrove berdiri tegak dengan awas. Akar-akarnya yang kuat, seperti tangan-tangan alam, mencengkeram tanah yang lembut, menjaga keseimbangan yang rapuh antara laut dan darat.
Mangrove, dengan keindahan dan kekuatannya, menjadi tanda kehidupan yang tak terkalahkan, menginspirasi kita untuk menghargai dan melindungi alam.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 20 Januari 2026
Peran mangrove sebagai penjaga pantai dari abrasi dan tsunami, penghasil oksigen, dan rumah bagi berbagai spesies (ikan, burung, dan hewan lainnya).
Bukan hanya itu, mangrove juga menjadi salah satu elemen penting dalam menangani krisis iklim yang disebabkan oleh pelepasan emisi karbon, dan juga pendorong perbaikan ekosistem dan adaptasi perubahan iklim.
Dengan adanya mangrove, kerusakan lingkungan pesisir dan sosial akibat perubahan iklim juga berkurang. Begitu juga sebaliknya kerusakan lingkungan pesisir juga berpotensi bertambah.
Misalnya, di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, nelayan menghadapi masalah abrasi yang semakin mengkhawatirkan. Hutan mangrove dengan ketebalan ratusan meter lenyap.
Kini hanya tersisa sedikit mangrove sebagai benteng terakhir. Semua itu, bagian dari deforestasi mangrove, yang terjadi saat pertambakan udang dan ikan massif dilakukan pada tahun 1970-an. Penyebab deforestasi pesisir adalah alih fungsi lahan menjadi kebun kelapa sawit (Kompas.com, 14/9/ 2023).
Baca Halaman Selanjutnya..