Kongres HPMS dan Panggung Para Senior
Oleh: Fadli Kayoa
(Jurnalis)
Malam tadi suasana Cafe Komune begitu ramai, sesekali meneguk kopi dan santap roti bakar coklat, pembahasan persiapan kongres Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) malam nanti begitu serius.
Ya seperti euforia, ada banyak alumni dan kader organisasi yang didirikan 66 tahun silam, tak habis menanyakan bagaimana kongres besar itu akan berlangsung.
Namun dibalik kongres megah yang didukung pemerintah daerah, politisi dan sejumlah kader tua itu aroma 'busuk' kepentingan tercium. Itu benar adanya, karena kongres yang digelar ini bukan atas prakarsa anak muda atau mahasiswa Sula yang tergabung dalam HPMS. Kongres justru diprakarsai golongan tua dan mereka yang terlibat politik praktis.
Apakah bisa golongan tua memprakarsai kongres HPMS?. Jawabannya bisa, namun
bukan sebagai penyelenggara, sebab jika itu terjadi aroma bau busuk kepentingan para senior dan politisi itu kian jelas. Mereka akan menempatkan kongres sebagai ajang merebut pengaruh dan kuasa. Lalu akan menempatkan Ketua PP HPMS sesuai dengan kemauannya.
Semestinya kongres organisasi berusia senja itu melibatkan kader HPMS kalangan muda bukan para politisi maupun birokrasi. Kader HPMS harus dilibatkan sebagai penggerak bukan penonton dan pelanjut estafet HPMS bukan budak para senior.
Ada banyak keraguan soal kongres yang akan berlangsung malam nanti. Apakah kongres HPMS jadi ladang senior merebut kuasa?. Jawabannya tentu ia. Buktinya dalam kongres yang akan digelar malam nanti, para kandidat yang mencalonkan diri adalah senior pejabat, politisi dan mereka yang terafiliasi dengan kekuasaan saat ini.
Apa jadinya jika kongres HPMS hanya akan melahirkan kepemimpinan yang terafiliasi dengan kekuasaan. Tentu akan semakin membuat organisasi kemahasiswaan itu mati suri. Sebab konflik kepentingan mengamankan kuasa dan kebijakan akan lebih menonjol, ketimbang keberpihakan bagi rakyat dan daerah. Dengan demikian, mahasiswa yang menjadi kader HPMS dikorbankan demi kepentingan para politisi, birokrasi dan senior-senior penjilat.
Jika kongres HPMS dengan dalil menghidupkan kembali, hanya jadi ladang berebut kuasa dan pengaruh, alangkah baiknya dibubarkan. Karena secara tidak langsung HPMS bukan lagi organisasi kemahasiswaan yang kritis terhadap kekuasaan, dan berjuang untuk rakyat Sula, di tengah situasi yang tidak baik-baik saja.
Lalu apakah kongres yang akan digelar megah ini akan berdampak ke daerah?. Sudah jelas kongres ini tak ada dampaknya bagi daerah. Apalagi yang memimpin HPMS lima tahun nanti adalah pejabat daerah. Ia pastinya akan menertibkan semua kader, untuk mendukung kekuasaan, ketimbang mengkritisi pemerintahan yang sedang diemban.
Pada titik tersebut, HPMS akan mati berkali-kali, lalu dijadikan tumbal untuk malam minggu istana daerah.
Tak terasa kopi komune begitu nikmat, roti bakar coklat ludes. Lampu-lampu berkedip, wacana HPMS masih tetap panas.