1. Beranda
  2. Opini

Kota Rempah dan Jejak Peradaban Timur

Hari Jadi Ternate ke-775

Oleh ,

Oleh: Ikram Halil
(ASN Pemkot Ternate)

Hari jadi ke-775 Kota Ternate bukan sekadar penanda usia administratif sebuah kota. Ia adalah pengingat panjangnya denyut peradaban di wilayah Timur Indonesia, bahkan dunia yang berurat akar pada laut, gunung, rempah, dan manusia yang sejak berabad-abad silam membangun tata hidup kosmopolitan di sebuah pulau kecil di kaki Gamalama.

Ternate adalah kota tua yang tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari sejarah panjang perjumpaan budaya, kekuasaan, pengetahuan, dan perdagangan global.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 18 Desember 2025

Sejak abad ke-13, ketika komunitas-komunitas awal di pesisir mulai terkonsolidasi dan membentuk struktur sosial-politik yang lebih mapan, Ternate telah menjelma sebagai simpul peradaban maritim.

Di sini, laut bukan batas, melainkan jalan. Ia menghubungkan Ternate dengan pulau-pulau di Maluku, dengan Jawa, Sulawesi, hingga ke India, Arab, dan Tiongkok.

Dari jalur-jalur laut itulah pengetahuan, bahasa, keyakinan, dan nilai-nilai hidup saling berjumpa dan membentuk karakter kota yang terbuka namun berakar kuat pada tradisi.

Status Ternate sebagai kota tua di Timur Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perannya sebagai pusat Kesultanan Ternate, salah satu kekuatan politik terbesar di kawasan timur Nusantara pada masanya.

Kesultanan ini bukan hanya simbol kekuasaan lokal, tetapi juga aktor penting dalam jaringan politik regional dan global. Diplomasi, persekutuan, dan konflik dengan kekuatan asing—Portugis, Spanyol, hingga Belanda—menempatkan Ternate dalam pusaran sejarah dunia jauh sebelum konsep “Indonesia” lahir sebagai negara-bangsa.

Di atas semua itu, rempah adalah nadi utama yang menghidupkan Ternate. Cengkeh, emas hitam dari Maluku menjadi alasan mengapa peta-peta dunia mulai memberi perhatian pada kepulauan kecil di Timur ini.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga